
Membangun kekuatan dalam diri remaja nggak bisa hanya mengandalkan sekolah atau orang tua saja. Remaja itu perlu mengenali potensi dan kekuatan yang mereka miliki. Dalam seminar tersebut, Dr. Rofiqah juga menekankan pentingnya analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) untuk membantu remaja mengenali diri mereka. Hal ini bisa membantu mereka untuk lebih memahami kekuatan yang ada dalam diri mereka serta bagaimana mengelola kelemahan yang ada. Ketika remaja tahu apa yang mereka bisa dan apa yang perlu mereka tingkatkan, mereka bisa lebih fokus dalam menghadapi tantangan.
Misalnya, remaja yang punya kekuatan dalam berpikir kreatif bisa diarahkan untuk menggali minat dalam bidang seni atau teknologi. Dengan dukungan yang tepat dari orang tua dan sekolah, mereka bisa lebih percaya diri dan merasa lebih berharga. Sebaliknya, jika ada kelemahan, seperti sulit mengontrol emosi, remaja bisa diberi bimbingan atau pelatihan untuk mengelola stres dan emosi mereka secara lebih efektif.
Peluang dalam Pendidikan dan Teknologi untuk Remaja
Peluang untuk berkembang itu sangat luas, apalagi di era teknologi sekarang. Remaja yang aktif mencari informasi dan belajar melalui teknologi bisa mengembangkan keterampilan yang berguna di masa depan. Di Desa Kemiri, pemanfaatan teknologi untuk mendukung pendidikan sangat penting. Misalnya, dengan mengikuti kelas online, mengikuti kursus atau pelatihan digital, mereka bisa mengembangkan keterampilan yang lebih praktis.
Di sisi lain, remaja juga bisa membangun jejaring sosial yang positif dengan teman-teman dan komunitas di luar sekolah. Ini adalah kesempatan yang luar biasa, mengingat bahwa dunia digital membuka banyak pintu bagi remaja untuk menemukan minat mereka lebih dalam. Namun, untuk menghindari ancaman dari media sosial yang bisa menurunkan produktivitas atau kesehatan mental, remaja perlu diajari cara menggunakan teknologi dengan bijak (Syaikhoni, Y., Subandi, S., Fadillah, K., Pratiwi, W., & Wulandari, W. 2021).
Menghadapi Ancaman dengan Dukungan yang Kuat
Tentunya, banyak ancaman yang harus dihadapi oleh remaja, seperti tekanan sosial, pergaulan yang buruk, atau masalah dengan kesehatan mental. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah depresi dan kecemasan yang semakin tinggi pada remaja. Oleh karena itu, penting untuk memiliki pendekatan yang lebih terbuka antara remaja, orang tua, dan guru. Dengan saling mendukung dan berbagi, kita bisa membantu remaja menghadapi tantangan tersebut dengan lebih baik.
Di Desa Kemiri, sinergi antara keluarga dan sekolah sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Ketika orang tua dan guru berkolaborasi dengan baik, mereka bisa menciptakan lingkungan yang positif bagi remaja untuk berkembang dengan sehat dan bahagia. Jangan lupa, peran keluarga juga sangat penting dalam memberikan dukungan emosional, agar remaja merasa dicintai dan dihargai tanpa syarat (At-Taqiyyah, A. K., & al Hakim, H. 2024).
Menumbuhkan Kepedulian terhadap Lingkungan Sekitar
Selain mendukung perkembangan pribadi remaja, kita juga perlu mengajarkan mereka untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Remaja yang memiliki empati dan peduli terhadap orang lain akan lebih mampu bekerja sama dalam masyarakat dan menghindari perilaku negatif. Melalui kolaborasi antara keluarga dan sekolah, remaja bisa diajari untuk berbagi dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang positif. Misalnya, melalui program pengabdian masyarakat atau kegiatan sukarela yang melibatkan orang tua dan siswa.
Kegiatan semacam ini tidak hanya membantu membentuk karakter yang baik, tetapi juga meningkatkan rasa tanggung jawab sosial remaja. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menghadapi dunia luar setelah mereka tumbuh dewasa.
Mindset Remaja Desa Kemiri: Antara Pendidikan dan Harapan yang Terkadang Terbatas
Di Desa Kemiri, ada satu tantangan besar yang dihadapi oleh para remaja terkait dengan pendidikan, yaitu mindset yang berkembang di kalangan mereka. Banyak remaja di sana yang merasa bahwa tidak perlu melanjutkan pendidikan tinggi karena anggapan bahwa pada akhirnya mereka hanya akan bekerja di ladang atau menjadi buruh kasar, apapun tingkat pendidikan yang mereka raih. "Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya juga ngarit," begitu sering kita dengar dari para remaja Desa Kemiri. Mereka berpikir bahwa pendidikan hanya untuk pekerjaan yang tidak jauh berbeda dari pekerjaan orang tua mereka---yaitu bekerja di bidang pertanian atau pekerjaan serabutan lainnya.
Ini tentu sangat disayangkan, mengingat pendidikan seharusnya membuka lebih banyak pintu kesempatan bagi mereka untuk berkembang. Salah satu dampaknya adalah banyak remaja yang hanya melanjutkan pendidikan hingga tingkat SMP, dan hanya sedikit yang melanjutkan hingga SMA. Setelah itu, mereka seringkali memilih untuk menikah dini. Faktanya, angka pernikahan dini di Desa Kemiri cukup tinggi, karena sebagian besar remaja merasa bahwa menikah adalah jalan keluar untuk masa depan yang lebih baik, tanpa melihat pendidikan sebagai faktor utama dalam meraih kemajuan hidup.