Selain kepuasaan yang di dapatkan terhadap kebutuhan individu, lingkungan juga menjadi sumber ancaman bagi individu. Jika individu dapat menanggulangi ancaman, ia akan mencapai perkembangan yang diinginkan.
Selanjutnya, Freud membagi tahapan perkembangan kepribadian menjadi beberapa tahapan perkembangan seksual yang berpengaruh di tahap perkembangan individu selanjutnya. Menurut Freud beberapa tahap periode model perkembangannya adalah pada tabel berikut.
Jadi, berdasarkan tahap perkembangan kepribadian Sigmund Freud, ketika orang tua menemui anaknya berperilaku seperti menggesek-gesekkan area vital ke benda di sekitarnya, seperti sofa, kasur, dsb itu merupakan tahapan yang memang dialami oleh seorang anak atau anak berada pada tahap phalik. Orang tua dapat meresponnya dengan tenang dan tidak langsung memberikan larangan keras pada anak. Meskipun demikian, orang tua juga tidak lantas mengabaikan dan menormalisasi. Perlunya komunikasi antara anak dan orang tua serta pengawasan lebih dari orang tua sangat diperlukan, sebab anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
Pada tahap ini, anak sudah bisa diberikan edukasi terkait hal ini dengan memberikan narasi, seperti "bagian tubuh yang ini cuma boleh dipegang sama kamu aja, ya" atau "bagian tubuh ini harus dibersihkan dengan ekstra dan hati-hati ya", dll. Pada tahap ini, orang tua diharapkan menjaga keharmonisan keluarga, ayah dan ibu diharapkan dapat memelihara perannya dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki komitmen yang tinggi dalam memanifestasikan nilai-nilai keagamaan yang dianut, dan ayah diharapkan bersikap demokratis, penuh perhatian, memiliki hubungan baik dengan anak, dan jujur.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H