Sudah berapa topeng yang kau pasang, berapa jenis irama yang kau ikut dendangkan? Meski sama sekali bukan tetabuhan kesukaan? Kau pasang topeng dan menari-nari mengikuti irama gendang yang dimainkan orang, karena keharusan, karena keterpaksaan? Sungguhkah kawan?
Atau...,
Kau hanya mencari rasa aman
Agar tetap di dalam lingkaran permainan, jumpalitan di arena kepentingan
Kau takut ditinggalkan, terlalu ngeri membayangkan jika tak dapat bagian
Engkau telanjang, jati diri suka rela kau tanggalkan, demi saku dan buku tabungan
Atau bisa jadi...,
Kau mencari pengakuan
Agar tetap mendapat kehormatan, diterima lingkungan, serta semunya sebuah pertemanan
Kau takut menjadi figuran, terlalu ngeri untuk menjadi yang disepelekan
Engkau memainkan peran, diri sejatimu hilang, demi kebanggaan dan pujian
Dan semua itu akan mengurasmu hingga kelelahan
Kepura-puraan membuatmu mabuk, lupa ingatan
Kekasih dan orang-orang kesayanganlah yang pertama menjadi korban
Selanjutnya, engkau berakhir sebagai rongsokan yang ditinggalkan
Maka...,
Tanggalkanlah topengmu, menarilah dengan iramamu
Berjalanlah tegak dengan ilmu, pada diri sejati yang teguh
Sebab mereka yang menyayangimu hanya memerlukan dirimu yang utuh
Kepada sosok itulah mereka merindu, kepada dirimulah ada bahagia yang penuh
Jakarta, 30 Januari 2019
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H