Waktu bergulir kian cepat, dentingan detik jarum jam seakan tidak ada bisa menghentikan alunan nada tersebut, zaman pun terus berganti layaknya air mengalir, gaya modernitas seakan menghipnotis semua orang-orang untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lalu, Itu yang saya rasakan saat mulai menapaki kaki ke salah satu tempat wisata di Palembang yakni Bukit Siguntang.
Sebenarnya sama dengan tempat-tempat wisata lainnya, sebuah bukit kecil setinggi 29—30 meter dari permukaan laut, tempat taman purbakala makam-makam bekas dari kerajaan Sriwijaya, terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi, yakni sungai yang dimiliki provinsi Sumatera Selatan dan termasuk dalam wilayah kota Palembang.
Bukit ini berjarak sekitar 4 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Palembang, dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum.
Bukit Siguntang sebagai bukit paling tinggi di dataran Palembang tampaknya telah dianggap sebagai tempat penting sejak masa Kerajaan Sriwijaya, beberapa temuan artefak yang bersifat buddhisme menunjukkan tempat bahwa ini adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan.
Sekitar jam 10.00 Pagi, perencanaan dari hari sebelumnya telah direncakan bersama teman lain untuk dapat pergi, untuk membuat liputan kebudayaan daerah. Berbekal camcorder Sony DCR- PJ 6, seakan siap merekam momen-momen peninggalan pra sejarah yang berada di sana.
Batu-batu besar bercampur lumut hijau dan berbagai perpohonan tinggi menjuntai seakan menyambut orang-orang berkunjung. Udara dingin bercampur hangatnya matahari menyelimuti situasi disana, juga menambah menyinari, seakan memberikan penerangan.
Serta dedaunan berjatuhan dari atas pohon menandakan aktivitas petugas kebersihan harus siap untuk melaksanakan tugasnya membersihkan daun berserakan di sekitar area agar tempat selalu terawat, namun di beberapa fasilitas umum dan prasarana yang tersedia seperti ruang duduk, juga dinding-dinding gazebo disana, terdapat coretan-coretan cat semprot tak jelas dari beberapa orang bertangan jahil, dan tak bertanggung jawab, merusak pemandangan.
Di sana terdapat setapak anak-anak tangga tak terhingga jumlahnya, berbentuk lurus beraturan sampai ke puncak dataran tinggi, di atas terdapat berapa artefak-artefak, dan makam-makam kerajaan yang dipercaya sebagai leluhur warga Palembang, nuansa magis terasa kental terasa, karena dianggap tempat keramat sebagian penduduk.
18 Juli 2018, pukul 11.00 pagi, tepat hari Sabtu, sebagian orang mendapatkan libur dari jatah kantornya, terutama Pegawai yang bekerja di Instansi Pemerintahan, di sebagian tempat jalan-jalan masa kini seperti mall-mall itu disesaki penuh orang, namun keadaan disini begitu terbalik, bagai bumi dan langit, sangat sepi. Terlintas di pikiran, bahwa tempat wisata itu seharusnya ramai, macam objek wisata di kebun binatang atau semacamnya. Memang sesuatu hal-hal berdampak ilmu pengetahuan, seperti mengunjungi objek pengetahuan di era sekarang tak terlalu diminati. Hanya dibiarkan ada dan terkikis oleh waktu yang silih berganti hari.
Satu demi satu untuk dapat langkahkan kaki di setiap anak tangga, sedikit terengah engah karena jalan begitu menanjak, kunyalakan power on pada camcorder, mulai merekam gambar apa yang bisa di jadikan momen terbaik, mencari sudut pandang pas dan mengatur pencahayaan agar bisa mendapatkan hasil sesuai harapan.
Seorang teman bernama Eline, berusaha mencari informasi agar kami mendapatkan bahan-bahan akurat,tetapi tidak tak terlihat petugas disana, hanya petugas sapu berpakaian kemeja kami dekati, bagaimana caranya bisa mengorek-orek data darinya. Keringat menetes di sebagian badannya, menandakan sudah lamanya ia bekerja membersihkan sampah semenjak pagi hamper menjelang siang. Tak cukup banyak kami dapatkan data didapat, namun berkat interaksi dilakukan, ada hal-hal bisa diketahui.