Jene-Jene Sappara merupakan salah satu tradisi adat yang sarat makna simbolik dan spiritual, melibatkan ritual mandi bersama di bulan Safar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Desa Balangloe Tarowang atas limpahan rezeki dari Tuhan. Tradisi ini tidak hanya mempererat solidaritas sosial, tetapi juga menjadi ikon budaya Kabupaten Jeneponto.
Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan tradisi dan budaya, salah satunya adalah Jene-Jene Sappara yang berasal dari Desa Balangloe Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Tradisi ini telah dilestarikan selama ratusan tahun sebagai wujud syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dilaksanakan pada bulan Safar dalam kalender Hijriah, Jene-Jene Sappara menjadi momen penting bagi masyarakat setempat, bahkan bagi mereka yang merantau. Artikel ini akan membahas makna simbolik, rangkaian prosesi, serta pentingnya tradisi ini dalam memperkokoh kebersamaan masyarakat.
Makna Simbolik Jene-jene Sappara
Jene-Jene Sappara memiliki makna mendalam sebagai upaya membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin. Dalam pandangan masyarakat, ritual ini adalah cara untuk memohon berkah dan menghilangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di bulan Safar. Selain itu, tradisi ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan adat ini.
Ritual ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang diterima. Tradisi ini diyakini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi ikon budaya daerah tersebut.
Makna dan Sejarah Jene-Jene Sappara, yang secara harfiah berarti "mandi-mandi di bulan Safar," merupakan tradisi adat yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Balangloe Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.Ritual mandi bersama ini dilaksanakan sebelum waktu salat zuhur, di Pantai Balangloe Tarowang. Jene-Jene Sappara berlangsung selama sepekan, dimulai dari tahap persiapan hingga puncaknya pada tanggal 14 Safar dalam kalender Hijriah. Kemeriahan acara ini tidak hanya diikuti oleh warga desa, tetapi juga menarik perhatian perantau yang pulang khusus untuk berpartisipasi dalam ritual tersebut.
Rangkaian Ritual
Ritual Jene-Jene Sappara terdiri atas beberapa tahapan, yaitu:
1. A’muntuli Riballa Karaenga
Proses memohon izin kepada leluhur sebagai penghormatan terhadap tradisi adat.
2. A’lili
Ritual pengambilan benda pusaka dari tempat penyimpanannya.
3. A’rurung Kalompoang
Arak-arakan benda pusaka, termasuk keris sang raja dan perlengkapan lainnya, menggunakan kuda sebagai simbol kebesaran kerajaan masa lalu.
4. Pakarena
Tarian tradisional khas Sulawesi Selatan yang ditampilkan pada acara puncak sebagai ungkapan kegembiraan dan penghormatan.
Partisipasi Masyarakat
Jene-Jene Sappara melibatkan seluruh warga desa, dari anak-anak hingga lanjut usia. Tidak hanya warga lokal, mereka yang merantau pun berbondong-bondong pulang untuk mengikuti ritual ini. Hal ini menunjukkan kebersamaan dan solidaritas masyarakat Balangloe Tarowang.
Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan
Selain memiliki nilai spiritual, Jene-Jene Sappara juga menjadi ikon budaya Kabupaten Jeneponto. Tradisi ini menarik wisatawan dan memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Selatan ke dunia luar. Pelestarian tradisi ini merupakan tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.
Kesimpulan
Sebagai tradisi yang kaya akan nilai budaya dan religius, Jene-Jene Sappara tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Desa Balangloe Tarowang, tetapi juga menjadi ikon budaya Kabupaten Jeneponto. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat turut melestarikan warisan leluhur yang penuh makna simbolik dan kebersamaan.