Kondisi masyarakat hari ini dibimbangkan dengan persoalan kegelisahan massal dan intimidasi sosial. Persoalan yang dimaksud ialah dekadensi moral yang pelik dan kompleks dihadapi oleh berbagai instansi pendidikan maupun sosial.Â
Pendidikan dengan masalah peserta didiknya, pemerintah dengan korupsinya, keluarga dengan perselingkuhannya, masyarakat dengan asusilanya, ekonomi dengan ketidak jujurannya, politik saling tumpang tindih, serta kebingungan dalam menentukan dan memilih calon pemimpin.
Permasalahan di atas, sudah barang tentu merupakan tanggung jawab bersama. Di ibaratkan air susu yang ketimpangan kotoran cicak, tidak sebagian yang terindikasikan kotor, akan tetapi semuanya menjadi kotor. Sama halnya dengan dekadensi moral yang terjadi hari ini.Â
Secara kausalitas, tanggung jawab pendidikan bukanlah pemerintah, lembaga pendidikan, polisi dan sebagainya, akan tetapi merupakan tanggung jawab setiap individu.Â
Jika setiap individu memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik, kiranya antara satu dengan yang lainnya akan saling mengingatkan, menguatkan, dan saling memberikan penguatan. Sehingga antara satu dengan yang lainnya memberikan feedback positif yang bermanfaat bagi seluruh lapisan.
Adapun penanaman tugas dan tanggung jawab pada tiap individu, sangatlah penting ditanamkan sejak dini. Disinilah peran lembaga pendidikan pertama yang dinilai komprehensif, yakni keluarga.Â
Keluarga sebagai lingkungan sosial peserta didik yang pertama, utama serta paling strategis dalam mengimplementasikan nilai-nilai tanggung jawab pendidikan pada setiap peserta didiknya.Â
Sehingga dengan sendirinya, secara vertikal mereka menyadari posisi dirinya sebagai makhluk tuhan YME. Sementara itu, secara horizontal mereka menyadari serta mengetahui pribadinya sebagai subjek dan objek pendidikan.
Apabila keluarga dianggap sebagai lembaga yang kondusif dan dinilai layak dalam mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan pada peserta didiknya, maka dalam memanifestasikannya perlu ada langkah-langkah yang jitu yang dinilai penting untuk diterapkan.Â
Pertama, kesadaran akan pribadinya sebagai orang tua dan pendidik. Kedua, menyadari bahwa anak merupakan amanah ilahiyah. Ketiga, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmaninya.Â
Keempat, mengenalkan aturan dan etika baik yang berbuhungan secara vertikal maupun horizontal. Kelima, Reward (hadiah) and punishment (hukuman) sebagai bentuk penghargaan dan pemberian peringatan yang bersifat mendidik.