Seiring kabar rektor ibu Amany Lubis yang kembali menjabat, saya harap tulisan ini dapat menjadi masukan yang didasari dari opini ceplas-ceplos dan analisis yang tak terlalu mumpuni. Mesjid layaknya pagar atau pintu masyarakat umum berbagai kalangan dalam menilai sebuah institusi. Jika boleh memberikan saran, seharusnya kepengurusan masjid dimiliki oleh divisi tersendiri, berisi sumber daya manusia yang mumpuni dan tidak hanya sekadar anggota dari dalam lingkup kampus.Â
Selayaknya apa yang hadir di setiap stasiun MRT dan Kereta Api, seharusnya ada tempat untuk mewadahi barang-barang berharga, sekaligus barang-barang yang ketinggalan di area kampus.
Berbicara masjid, saya rasa lebih baik dipindahkan ke area yang jauh lebih terhormat dibandingkan di Student Center, karena dari segi estetika pun sudah kalah. Selain itu, organisasi yang bertempat di mesjid sudah semestinya dapat hadir memberikan sosialisasi secara berkala kepada jamaah masjid, bukan hanya menghias mading.Â
Maka sudah seharusnya kita sebagai umat Islam dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang mempunyai gelar mahasiswa melakukan amal ilmiah, minimal dapat memberikan pemikiran kritis demi mewujudkan reorientasi islami terhadap kepengelolaan masjid kampus agar tidak mengalami stagnansi, penurunan ekspektasi dan jangan sampai kampus tercinta mengalami krisis identitas.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI