Partitur hujan, bait berantakan, kami kehilangan makna puisi, tak ada kesejukan, uap menjelma retakan, ke mana lagi berharap rangkulan, rangkulan berjarak oleh kepentingan, hanya keluhan menggema, air semakin tinggi memakan kecemasan, lupa selama ini hujan dijerang, didih genderang, kebencian semakin terang, kami lupa menghitung setiap tetesan, seakan jarum menusuk tumbuhan,tapi tanah gersang sebagai tipuan, hasutan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI