The business activities have been halted for the last three months. Aktivitas bisnis terhenti selama tiga bulan terakhir. Bagi yang memiliki penghasilan rutin seperti PNS, barangkali tidak masalah. Atau mereka yang punya tabungan, juga tidak goyah. Bedanya hanya pada volume aktivitasnya.Â
Beda halnya dengan mereka yang nganggur, pendapatan tidak menentu atau sebagai pekerja harian. Selain aktivitas mereka terhenti, penghasilannya nothing. Akan tetapi, pengeluaran jalan terus. Mereka butuh makan, bayar sewa rumah, air listrik dan pajak. Dari sini kita bisa kelompokkan.Â
Selama masa Pandemi Corona ini status sosial-ekonomi masyarakat kita terbagi dua. Pertama yang punya tabungan dan penghasilan tetap dengan yang kedua, tidak punya tabungan atau tanpa penghasilan.
Bersyukurnya, denyut jantung dan pernafasan ini tidak butuh baterei buatan China. Jantung berdenyut otomatis dan paru-paru bekerja memproses panarikan oksigen semua didapat gratis dari Sang Pencipta. Udara segar juga diberikan cuma-cuma oleh Yang Maha Kuasa. Andai ini harus beli, ke mana, di mana dan berapa biayanya?Â
Belum lagi air. Sekalipun kita bayar jasa ke PDAM, namun bukan PDAM yang menciptakan air. Air bukan hasil ciptaan kita. Yang kaya rayapun, dalam kategori Golongan pertama, tidak bakalan ada yang sanggup membelinya. Maka, betapa mahal tak terkira yang namanya kehidupan?
Status sosial-ekonomi golongan kedua yang sangat terpukul. Mereka tidak berdaya. Mereka dituntut pandai-pandai menyikapi badai kehidupan ini. Mereka harus menggali potensi guna meningkatkan daya kreativitas serta inovasi, agar mampu bagaimana bertahan dan bisa 'berperang' melawan Corona ini.
Dua bulan terakhir ini marak Surat Sakti berharga yang bernama 'Certificate'. Orang Indonesia bilang 'Sertifikat'. Sertifikat adalah tanda atau surat keterangan (pernyataan) terulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau suatu kejadian (KBBI). Misalnya sertifikat kepemilikan harta, sertifikat barang, kesehatan, pendidikan, pelatihan dan lain-lain. Guna mendapatkannya, umumnya tidak ada yang gratis alias berbayar.
Kelompok Status Sosial ekonomi kedua sangat diuntungkan dengan maraknya perolehan sertifikat yang gratis. Tentu saja bukan sertifikat pemilikan barang, misalnya rumah atau tanah.
Sertfikat gratis akhir-akhir ini diberikan dalam bentuk seminar dan sejenisnya. Setiap hari berseliweran di medsos online seminar yang bertujuan mengajak masyarakat berbondong-bondong mengisi acara Webinar, Online Seminar, Zoom meeting dan sejenisnya yang diberikan tanpa bayar. Penyelenggaranya juga tanpa honor. Tidak diragukan lagi, jumlah pesertanya bisa mencapai ribuan orang.
Dua hari lalu, sebuah organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyelenggarakan seminar online, diikuti oleh lebih dari 18.000 peserta. Sungguh luar biasa.
Hingga hari yang ke 25 penyelenggaraan Zoominar, pengeluaran sertifikat sudah menunjukkan angka 425.278 lembar. Bila itu dalam bentuk uang, sedikitnya Rp 100.000 per peserta harus bayar pada organisasi. PPNI mestinya bisa maraup angka pemasukan sebesar 100.000 x 425.278 = Rp. 42.527.800.000. Sebuah pendapatan yang sangat besar.
Oleh sebab itu, inisiatif penyelenggara acara ini sudah pantas mendapatkan penghargaan dan apresiasi dalam membantu anggotanya. Terlebih, sertifikat ini memiliki nilai SKP (Satuan Kredit Point) yang dibutuhkan guna memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR) yakni sebanyak 25 SKP.Â
Setidaknya, dengan mengikuti cukup 8 kali pertemuan saja, akan bisa terpenuhi SKP nya. PPNI hingga tanggal 6 Juni 2020 kemarin sudah menyelenggarakan 28 kali Zoominar. Setiap hari PPNI rata-rata mengeluarkan sertifikat sejumlah 17.011 buah sertifikat bagi anggotanya.
Pertanyaannya adalah, dengan membanjirnya perolehan sertifkat ini, apa dampaknya terhadap profesional?
Indonesia ini adalah negeri sertifikat. Di Indonesia ini mau ke mana-mana, biasanya diminta surat sakti ini. Mulai dari pengurusan KTP, kelahiran, mendirikan badan usaha hingga perolehan pekerjaan.Â
Di era wabah Corona ini, yang paling dibutuhkan orang adalah bagaimana bisa bertahan hidup dengan memperoleh pemasukan rutin atau tambahan. Dengan memiliki sertifikat, diharapkan bisa mendongkrak peningkatan taraf kesejahtaraannya. Sertifikat dianggap bisa membantunya. Apa bisa?
Dalam perolehan pekerjaan, sangat umum yang namanya HRD melihat sertifikat apa saja yang dimiliki oleh kandidat. Untuk bekerja sebagai perawat di industry misalnya, selain berijazah, kandidat biasanya diminta untuk memiliki sertifikat: STR, pengalaman kerja, BTCLS, ALS dan K3. Sertifikat-sertifikat lainnya seperti seminar, jarang 'dilihat'.Â
Untuk bekerja sebagai perawat Homecare sebagai contoh lainnya, selain Ijazah dan STR, sertifikat yang mendukung adalah pengalaman kerja, pelatihan Homecare, BTCLS, BLS, atau surat relevan lainnya seperti sertifikat Diabetes, IGD, ICU, Woundcare, Dialisis dan sejenisnya. Bukan dalam bentuk sertifikat seminar.
Bedanya sertifikat seminar dengan sertifikat pelatihan adalah pada penekanan kompetensi. Sertifikat seminar hanya fokus pada perolehan ilmu pengetahuan (Cognitive). Sertifikat Pelatihan ditekankan pada aspek keterampilan (psychomotor).Â
Aspek pengetahuan bisa diperoleh cukup dengan membaca dan kadang butuh sedikit penjelasan. Hanya menggunakan daya ingat (memori), kita sudah dapat tambahan ilmu. Sedangkan aspek keterampilan butuh bukan hanya ilmu, tapi juga keikutsertaan fisik, minimal dengan menggunakan tangan.
Orang kerja itu membutuhkan keterlibatan anggota tubuh. Minimal kedua tangan. Maka sertifikat yang mengandung aspek keterampilan otomatis jauh lebih laku untuk dijual daripada sertifikat yang hanya menekankan perolehan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu sertifikat seminar yang bisa diikuti oleh ribuan orang, pesertanya bisa join sambil 'tiduran'. Berbeda jauh dengan 'sertifikat pelatihan' yang jumlah partisipannya sangat terbatas. Idealnya, hanya 8-10 orang.
Dari sini jelas. Nilai sebuah pelatihan, walaupun tanpa sertifikat, yang diikuti oleh 8-10 orang, akan beda hasil dan nilainya dengan seminar, meskipun ber-SKP, namun diikuti oleh ribuan peserta.Â
Kecerdasan mengikuti acaraa-acara Online seperti ini perlu dimiliki oleh profesional. Jika tidak, penumpukan sertifikat hanya berbuah pada penambahan jumlah kertas pada Document Keeper, with no faedah. Jadi, untuk apa?
Terlebih, di era Wabah Corona ini. Untuk mencari kerja, jangankan yang hanya berbekal sertifikat seminar. Yang sudah mengantongi pengalaman kerja sudah bertahun-tahun lamanya, dengan sebendel sertifikat pelatihan, ternyata dirumahkan. Memperoleh pekerjaan kini tidak lagi mudah. Ribuan Usaha Kredit Kecil dan Menengah terhenti. Perusahaan banyak yang istirahat, karena permintaan rendah. Kegiatan export import pula tidak jalan.
Oleh sebab itu, lebih dari sebuah sertifikat, yang kita butuhkan sebenarnya bukan kertasnya. Zaman sekarang ini kalau hanya soal pengetahuan, kita sudah memiliki jutaan orang pintar. IP tinggi di atas 3 membludak. Bahkan predikat Cumlaude, tidak lagi disebut istimewa. Yang dibutuhkan di masyarakat adalah realitas. Dengan duduk manis di rumah saja, sambil pegang HP, kita bisa dapat ilmu pengetahuan.
Negeri ini butuh orang-orang yang memiliki daya kreativitas dan inovasi. Kita butuh profesional handal yang punya etos kerja tinggi, disiplin, berkomitmen, punya moral dan ketekunan dalam kerja. Bukan sederetan daftar seminar atau pelatihan, namun malas di tempat kerja, minim kreativitas dan miskin inovasi.
Inilah kunci utama perolehan kerja di tengah persaingan sengit. Kunci dasar di ataslah yang membuat kita tetap memiliki optimisme dalam bekerja. Kunci di atas lah yang membuat individual tidak menyerah. Orang-orang yang kreatif, sekalipun tidak mendapatkan pekerjaan dari perusahaan milik orang lain tidak goyah. Mereka mampu menggali potensi guna mempekerjakan diri sendiri.
Malang, 7 June, 2020
Ridha Afzal
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI