Tahun 2025 saja World Economic Forum dalam Future of Jobs Repot 2020 memproyeksikan tingkat otomatisasi akan mencapai 47%.
Kita akan semakin menjumpai robot humanoid - yang menurut ilmuwan sebagai Homo neanderthals versi modern - melakukan aktivitas atau bekerja.
Menurut ilmuwan kecerdasan buatan, tahun 2035 nanti robot cerdas akan mampu melakukan operasi bedah layaknya dokter bedah. Dan tahun 2135 yang akan datang kecerdasan buatan dapat melakukan semua pekerjaan manusia (Katja Grace, et al, 2016).
Jika hasil kajian para ilmuwan itu tepat, maka prinsip “saya bekerja untuk anda (employer), maka Anda wajib memenuhi kewajiban saya” tidak lagi relevan.
Maka, yang tersisa adalah apakah nilai kita sebagai manusia yang bekerja masih diukur dari pencapaian dan status? Apakah kita masih ditentukan dari apa yang kita lakukan?
Pekerjaan telah membentuk kepribadian kita. Itu pula yang menentukan kita sebagai manusia. Ambisi kita untuk memperoleh karir, materi dan prestise (reputasi) dalam pekerjaan sering mengaburkan esensi bekerja.
Salah satu bentuknya adalah kita terlalu sering bekerja. Indonesia sendiri termasuk negara yang memiliki jam kerja yang panjang, yaitu 2.133,88 jam (sebelum pandemi) per pekerja dalam setahun (BPS, 2020).
Terlepas dari apapun motif yang membuat kita terlalu sering bekerja ternyata jam kerja yang panjang (lebih dari 40 jam dalam seminggu) berkorelasi dengan ketidakbahagiaan.
Data dari OECD tahun 2019 tentang Average Annual Hours Actually Worked per Worker dan World Happines Report 2019 menunjukkan bahwa orang yang memiliki jam kerja pendek umumnya lebih bahagia bila dibandingkan dengan orang yang memiliki jam kerja panjang. Bagaimana dengan produktivitas kerjanya?