Mohon tunggu...
Moch. Faizal Reza
Moch. Faizal Reza Mohon Tunggu... Wiraswasta - Mahasiswa Pertanian Agroteknologi Universitas Islam Malang

Saya hobi olahraga

Selanjutnya

Tutup

Nature

Meningkatnya Urban Farming Menjadi Peluang di Lahan Sempit

20 November 2024   23:22 Diperbarui: 20 November 2024   23:22 10
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar Ilustrasi Urban Farming (Sumber: Shakker AI)

Seiring bertambahnya populasi di daerah perkotaan, masyarakat yang tinggal di sana harus menghadapi pengeluaran yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi penduduk perkotaan, terutama dengan tingginya biaya hidup yang berujung pada tantangan ketahanan pangan rumah tangga. Setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan dasar, salah satunya adalah kebutuhan terhadap pangan. Pangan sangat penting bagi manusia sehingga negara mengakui bahwa urusan pangan adalah tanggung jawab yang wajib dipenuhi.

Manusia dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, misalnya, melalui bercocok tanam atau beternak, sementara secara tidak langsung dapat dilakukan dengan mencari atau membeli produk pangan, seperti hasil pertanian di pasar. Namun, salah satu tantangan utama dalam pertanian di daerah perkotaan adalah terbatasnya lahan yang dapat digunakan untuk bertani atau berkebun.

Gambar Ilustrasi Urban Farming (Sumber: Shakker AI)
Gambar Ilustrasi Urban Farming (Sumber: Shakker AI)

Untuk mengatasi kebutuhan pangan sekaligus mengurangi pengeluaran, salah satu solusi adalah memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah untuk berkebun. Aktivitas ini dikenal sebagai Urban Farming. Urban Farming menjadi alternatif yang efektif untuk menyediakan makanan, seperti sayuran dan buah-buahan, serta membantu mengatasi tantangan ketahanan pangan sekaligus menekan pengeluaran keluarga. Pemanfaatan Urban Farming tidak memerlukan lahan yang luas; cukup dengan memanfaatkan ruang yang tidak terpakai, pekarangan, atau bahkan dinding rumah.

Ada banyak metode budidaya yang dapat diterapkan dalam Urban Farming, seperti vertikultur, hidroponik, akuaponik, aeroponik, serta menanam buah dalam pot (tambulampot). Hasil dari berkebun sendiri tidak hanya dapat meningkatkan gizi keluarga, tetapi juga lebih terjamin kesehatan karena bebas dari pestisida. Pertanian perkotaan umumnya menekankan pada kualitas dan penggunaan bahan kimia yang minim.

Dengan memperhatikan prinsip dasar model Urban Farming, yang mencakup (1) hemat lahan dan estetika; (2) proses produksi yang bersih dan ramah lingkungan; (3) komoditas bernilai ekonomi dan berdaya saing; serta (4) dukungan inovasi teknologi yang maju, Urban Farming telah menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan untuk berkebun di lahan terbatas. Dengan demikian, lahan kosong atau tak terpakai dapat diubah menjadi sesuatu yang produktif dan mendukung aspek kehidupan mereka.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun