[caption id="attachment_370180" align="aligncenter" width="518" caption="foto imanuelpn.wordpress.com"][/caption]
Peranan media sangat kuat dalam mempengaruhi kehidupan sekarang. Selain sebagai kontrol, pusat informasi dan pengetahuan. Media juga merupakan tempat masyarakat dalam menyalurkan hak suaranya secara bebas dan transparan. Menyikapi pemberitaan tentang geng motor di kota Makassar yang telah menimbulkan keresahan warganya serta warga lain yang ingin berkunjung ke kota Makassar baik untuk melanjutkan pekerjaan, berbisnis dan berdagang serta berwisata menikmati estetika kota daeng tersebut. Disini peranan media telah bekerja dengan baik dalam mengangkat pemberitaan yang menjadi konsumsi publik hingga menjadi headline, serta memiliki pengaruh yang signifikan dalam mempengaruhi masyarakat umum yang berada diluar kota Makassar.
Logika media telah merasionalisasikan pikiran masyarakat yang telah mendengar, membaca dan menonton berita tersebut, walau tanpa melihat langsung TKP (tempat kejadian pemberitaan). Media memiliki kekuatan komunikasi untuk mempengaruhi publik hingga merasa yakin dan percaya hal itu. Begitu masifnya pemberitaan akan kebrutalan dan bringasnya komplotan geng motor di kota Makassar, sehingga media Inggris tersita untuk menoleh dan mencoret kabar tersebut menjadi berita yang menarik, sekedar dikupas namun tidak tuntas, sebatas kulit luarnya saja. Isinya belum jelas terlihat apalagi untuk merasakan nikmatnya berita geng motor di kota Makassar yang sebenarnya.
Melihat sisi lain dari setiap pemberitaan media perlu diperhatikan. Sedikit membuka cakrawala berpikir dengan logika sederhana; kalau kondisi Makassar separah seperti pemberitaan media. Pastinya banyak warga Makassar yang mengungsi mencari tempat aman dan lebih damai, Bagaikan telah terjadi bencana alam besar di kota Makassar. Mari bersama kita melihat sisi lain dan mencoba berpikiran terbalik akan pemberitaan media, bahwa Makassar sekarang tidak aman gara-gara komplotan geng motor yang melakukan tindakan kriminal dengan sadis, membunuh tanpa berprikemanusiaan dan menjadi perampok. Pelakunya rata-rata anak usia remaja dan baru mau jadi orang dewasa lagi.
Inilah fenomena kehidupan yang terjadi disetiap kota metropolitan, bukan hanya di Makassar saja. Di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, bahkan geng motor dan tindakan kriminalitas di Tokyo,Beijing, Washington D.C., New York, London, Canberra dan kota-kota lain yang lebih modern jauh lebih brutal, bringas dan sangat sadis. Mereka bagaikan binatang buas dikehidupan rimba. Munculnya geng motor yang anarkis dan bertindak kriminal, hingga merampok serta membunuh. Akibat dari adanya ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial, pendidikan, kelayakan ruang-ruang publik sebagai fasilitas umum untuk berkreatifitas dan berolahraga secara bebas dan terkendali, serta adanya penyelenggaraan pemerintahan yang kotor. Sehingga melahirkan generasi muda yang anti penindasan, pesimis akan kemapanan dan tidak memiliki motivasi untuk menjadi manusia yang berguna, bermanfaat dan bernilai bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa.
Saatnya pemerintah kota Makassar dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk intropeksi dan berinovasi dengan program-program kesejahteraan rakyat, serta menyikapi secara konkrit peristiwa geng motor tersebut. Ini hal yang konyol, sekonyol-konyolnya bagi saya yang pernah lama tinggal dan menetap di kota Makassar. Saya yakin sekali bahwa sepak terjang dan kisah geng motor itu, tidak bisa mengendalikan keamanan dan ketertiban di kota Makassar. Kondisi Makassar tidak separah yang diberitakan oleh beberapa media yang lagi hotnews tersebut. Saya lebih yakin lagi bahwa kepolisian sudah mengetahui siapa dalang dari geng motor itu beserta dengan seluruh preman yang ada bersamanya, dan tahu cara menumpas mereka secara tuntas yang hanya sekomplotan tidak sebanyak seperti sebuah komunitas ataupun panguyuban.
[caption id="attachment_370181" align="aligncenter" width="420" caption="foto oto.detik.com"]

Makassar adalah kota yang berbudaya, beretika dan sangat memegang prinsip si’ri (malu), serta anak mudanya sangat hormat dan menghargai orang yang lebih tua. Untuk menangani geng motor dan komplotan preman, itu pekerjaan yang mudah dan tidak sulit untuk diberantas bagi penegak hukum. Hanya saja kepolisian sebagai penegak hukum sudah tidak serius dan seakan membiarkan saja para geng motor itu beraksi. Saya yakin para intelejen, serse, buser dan polantas yang dilengkapi dengan perangkat dan peralatan lengkap dengan senjata legal, serta adanya perlindungan hukum dalam menegakkan hukum negara secara adil dan bijaksana. Kami yakin polisi sudah mengetahui gembong dari komplotan geng motor dan preman yang bersamanya. Namun kondisi sekarang, pihak kepolisian merasa bukan lagi sebagai penegak hukum yang menjaga stabilitas, keamanan, ketertiban dan kedamaian di dalam kehidupan masyarakat.
Polisi bukan lagi merupakan alat negara dan sebagai penyelenggara negara. Yang mengayomi serta melayani masyarakat. Kepolisian adalah alat kekuasaan. Olehnya itu mari buktikan kepada rakyat Indonesia bahwa kalian adalah pahlawan penegak kebenaran dan keadilan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI