Mohon tunggu...
REFLUSMEN R
REFLUSMEN R Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Merindukan Indonesia Makmur

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Kerugian karena Macet Rp 100 Triliun Per Tahun

26 Desember 2017   07:04 Diperbarui: 26 Desember 2017   08:54 836
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Kerugian Karena Macet Rp 100 Triliun Per Tahun.

Metode pendekatan kebijakannya yang keliru karena Nilai Investasi dijadikan komponen dalam menetapkan tarif.

Kerugian yang sangat fantastis dan uang yang hilang dari kerugian ini tidak berputar di dalam Negeri.

Kami tidak mempelajari secara detail komponen yang menjadi kerugian ini. Kami hanya menghitung sendiri dengan asumsi antara lain :

1. Bahan bakar yang hilang secara percuma. Maksudnya, jika dalam kondisi lancar 1 (satu) liter menempuh jarak 10 Km, dalam kondisi macet 1 (satu) liter hanya menempuh 5 KM. Disini, terjadi kerugian sebesar 1 (satu) liter untuk setiap 10 KM atau setara dengan Rp 8.250,- per 10 KM.

Perjalanan perhari pulang pergi rumah dari/ke kantor sepanjang 40 KM atau per bulan sepanjang 800 KM dan perjalanan pertahun sepanjang 9.600 KM

Kerugian yang diderita selama satu tahun adalah 9.600/10 X Rp. 8.250,- = Rp 7.900.000.dibulatkan menjadi Rp 8 juta per orang.

2. Waktu yang hilang percuma.

Pengalaman kami setiap hari, jarak 20 KM ditempuh selama 2 jam. Jika kecepatan rata - rata  kondisi normal 1 jam 60 KM, maka waktu tempuhnya hanya 20 menit. Jadi, waktu yang hilang karena macet adalah 120 menit - 20 menit = 100 menit.

Berapa nilai uang (Rp) untuk 100 menit ?.

Cara menghitungnya adalah sama dengan Gaji per menit. Contoh : Gaji per bulan sebesar  Rp 4 jt ( UMR ) dengan jam kerja selama 160 jam perbulan  (5 hari X 8 4) atau 9600 menit. Gaji per menit = Rp 4 jt/9600 = Rp. 417,-

Waktu hilang karena macet pulang pergi adalah 200 menit X Rp 417,-  X 20 Rp 1.668.000- per bulan.

Kerugian satu tahun = 12 X Rp. 1.668.000,- = Rp. 20.016.000 dibulatkan menjadi Rp.20 jt. Angka Rp 20 jt adalah kerugian per orang selama satu tahun.

Dari kerugian dua komponen di atas, diasumsikan kerugian masing2 sebesar 50% (asumsi untuk memudahkan perhitungan), berarti kerugian pemborosan BBM dan waktu hilang percuma masing-masing sebesar Rp 50 Triliun.

Kemana effek kerugian ini ?

Bahan Bakar harus diimpor lebih banyak yang berarti ada uang melayang ke Luar Negeri seb Rp 50 Triliun. Ini adalah kerugian riel karena tidak ada subtitusinya di dalam negeri dan Import BBM adalah faktor utama yang mempengaruhi (negatif)  Neraca Pembayaran Indonesia.

Nggak kebayang efek domino jika uang sebesar Rp 50 Triliun ini berputar di dalam negeri.

Kerugian karena pemborosan akan dikompensasikan pada Harga Pokok sehingga Harga Jual menjadi tinggi. 

Sebagai contoh adalah biaya angkutan Kontainer yang sangat tinggi karena  Cikarang ke Tanjung Priok hanya bisa ditempuh satu kali (trayek ) dalam sehari. Faktor pembagi dalam menetapkan biaya kontainer adalah satu (trayek). Jadi, semakin banyak trayek semakin murah biaya angkutannya.

Jika Harga Jual tinggi, daya saing produk menjadi lemah.

Produk ekspor jadi nggak laku dan produk Import masuk ke Dalam Negeri karena harganya lebih murah. Inilah yang membuat produk tekstil China membanjiri pasar Indonesia.

Apa solusi kondisi kerugian karena macet ?

Benahi Angkutan Umum agar pengguna kendaraan Pribadi pindah ke Angkutan Umum.

Angkutan Umum yang murah, Waktu tempuh yang pasti.

Jika semua sarana (Investasi) berupah Infrastruktur untuk angkutan Umum bisa mengurangi kerugian sebesar 50% atau Rp 50 Triliun per tahun, berapa nilai Investasinya ?.

Nilai Investasi bisa dihitung dengan pendekatan Present Value dari Income yang diperoleh. Income disini sama dengan nilai kerugian yang berkurang yaitu Rp 50 Triliun.

Jika diasumsikan Umur Ekonomis nilai Investasi selama 10 tahun dan Tingkat bunga sebesar 6% pertahun, maka Present Value dari Income seb Rp 50 Triliun adalah seb Rp. 368 Triliun.

Apa makna dari Investasi seb Rp 368 Triliun ini ?.

Pemerintah legowo saja mengeluarkan uang sebanyak ini tanpa memperhitungkan keuntungan komersial dari Investasi ini. Toch, sudah diperoleh keuntungan seb Rp 50 Triliun yang dinikmati masyarakat berupa pengurangan kerugian karena macet.

Jadi, semua Infrastruktur Angkutan Umum tidak memperhitungkan Keuntungan dalam menetapkan tarifnya karena tarif yang tinggi tidak membuat masyarakat pindah dari moda transportasi pribadi ke angkutan umum.

Coba kita berandai-andai dengan mengambil contoh :

1. Tarif KA Bandara sebesar Rp 100 ribu per orang. Ini Tarif yang sangat mahal karena ada biaya yang timbul dari rumah ke/dari Stasiun yang jumlahnya terbatas.

Jika berangkat sendiri Tarif Rp 100 ribu masih mungkin diterima. Namun jika berangkat lebih dari 1 orang lebih baik pakai mobil pribadi yang tidak turun naik.

2. Bus Way.

Bisnis model Bus Way adalah kerja sama Investor Bus Way dengan Transjakarta. Investor dibayar oleh Transjakarta berdasar jarak perjalanan Busway (tarif per KM).

Sewaktu kami menghitung Kelayakan Investasi yang dikeluarkan Investor berdasarkan tarif per KM, Investasi ini tidak Layak karena Income yang diterima oleh Investor tidak memadai untuk melakukan pemeliharaan kendaraan. Jangka waktu pengembalian Investasi lebih panjang dari umur ekonomis Bus Way.

Bisnis model ini yang membuat jumlah Bus Way yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Jadi, biaya Investasi tidak menjadi Komponen dalam menetapkan Tarif. Hanya memperhitungkan biaya operasionalnya saja.

Dengan demikian, angkutan Umum, Nyaman dan Murah bisa dinikmati oleh Masyarakat.

Semoga dibaca oleh pihak-pihak yang mengambil kebijakan dalam bidang Transpotasi.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun