Pendekatan ini menekankan pada pelaksanaan ritual atau ibadah formal yang diwajibkan oleh agama. Individu yang beragama secara ritualistik biasanya taat dalam menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah seperti shalat lima waktu dalam Islam, misa mingguan dalam Kristen, atau persembahan kepada dewa dalam Hindu. Pelaksanaan ritual ini bertujuan untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan dan menjaga kesucian spiritual.Â
Contoh: Seorang Muslim yang secara konsisten menjalankan shalat lima waktu di masjid setiap hari sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
2. Beragama secara Emosional
 Pendekatan emosional dalam beragama berfokus pada pengalaman spiritual yang mendalam dan hubungan emosional dengan Tuhan. Individu yang beragama secara emosional sering mencari pengalaman religius melalui dzikir, doa, meditasi, atau ziarah ke tempat suci. Cara ini mengutamakan pengalaman emosional dan spiritual dalam beragama.Â
Contoh: Seorang penganut tasawuf yang rutin mengikuti majelis dzikir untuk merasakan kedamaian batin dan mendekatkan diri kepada Allah.
3. Beragama secara Sosial
 Beragama secara sosial menekankan pentingnya interaksi sosial dalam menjalankan ajaran agama. Individu yang beragama dengan cara ini aktif dalam kegiatan sosial keagamaan seperti berdakwah, membantu kaum dhuafa, atau terlibat dalam organisasi keagamaan.Â
Contoh: Seorang aktivis Islam yang aktif dalam kegiatan sosial seperti membagikan sembako kepada fakir miskin di bulan Ramadhan.
4. Beragama secara Etis
 Pendekatan ini lebih menekankan pada pengamalan nilai-nilai etis dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Individu yang beragama secara etis berusaha menjalani hidup yang sesuai dengan ajaran agama, seperti berlaku jujur, adil, dan penuh kasih sayang terhadap sesama.Â
Contoh: Seorang pedagang yang selalu jujur dalam bertransaksi sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan