Dua bulan sudah kita berpisah , kali ini benar benar terpisah. Tanpa ada jalan untuk kita bisa bersama dan bertemu kembali. Sore itu di antara sinar matahari senja kamu bilang kita tidak harus saling melupakan, kita masih bisa menjadi saudara. Aku hanya menganggguk mengiyakan, sementara hatiku merasa seperti tenggelam dalam kubangan , menggapai tak tentu arah mencari pegangan.
Sejak hari itu , tak lagi kutau kabarmu. Dan kamu pun tak pernah lagi mencari kabarku. Perpisahan yang maha sempurna. Namun hatiku tidak pernah benar benar selesai. Aku menyimpanmu dalam hati ku, menggenggam erat dan enggan melepaskan. Meskipun itu serupa menggenggam erat mata pisau di telapak tangan, semakin erat akan semakin dalam terluka. Tapi biarlah, setidak nya aku tau seperti  apa rasanya mencintai dalam diam.Â
Seribu orang menuduhku tak waras , seribu lainnya menudingku bodoh , karena masih saja aku menyayangimu, meski semesta jelas jelas tidak lagi memihakku. Ah biarlah. Aku tidak mengharap apa pun lagi. Pun juga aku tidak berharap semesta mengijinkanku kembali bersamamu.Â
Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi, tanpa aku harus menyapamu,tanpa aku harus bertanya kabarmu , sekalipun ingin sekali aku melakukannya di setiap hari, tapi aku menahannya sekuat hati untuk kebaikan kita sendiri.
Aku mendengungkan namamu di tiap sujudku, melafalkan namamu di setiap  aku menelangkupkan tanganku, meminta  Tuhan menjagamu, memohon kamu menjadi suami yang baik bagi kesayanganmu, berharap kamu senantiasa sehat dan selamat , dan menjadi leader yang tangguh bagi tim mu di tempat kerja. Tanpa kamu perlu tau apa yang sedang kulakukan untuk mengenangmu.
Ah...aku sangat merindukanmu , ceritamu tentang pekerjaanmu, tentang rasa lelah mu , tentang hal hal lucu yang kamu alami, Â tentang rasa sayang kita..masih tertata rapi di file memoriku. Mungkin kenangan ini akan usang dan berdebu , biar saja , aku akan menempuh jalan sunyi ini. Setidak nya aku bisa menyentuhmu dalam doa doa ku, ah mungkin juga tidak , bukankah kamu tidak pernah tau bahwa aku masih menyayangimu. Tapi aku bahagia tiap kali berdoa untuk mu. Dan itu cukup bagiku.Â
Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi , yang tidak mampu di sampaikan hujan , angin , awan dan senja kepadammu.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI