Kebiasaan masyarakat Indonesia banyak berubah semenjak merebaknya pandemi covid-19 beberapa tahun yang lalu. Ketika protokol kesehatan dilakukan dengan ketat, orang-orang dipaksa untuk menetap di rumah demi mencegah penularan yang berlanjut. Karena kebiasaan baru tersebut, banyak sektor kehidupan juga ikut terdampak. Dunia literasi menjadi salah satu yang terpengaruh efek perubahan besar-besaran tersebut.Â
Sebelum tahun 2019, Indonesia telah menghadapi beberapa masalah literasi dengan persentase jumlah literasi yang dibawah rata-rata. Masalah literasi ini terutama terjadi di kota-kota kecil dan area yang sulit dijangkau dari kota pusat. Namun semenjak pandemi berlangsung, orang-orang terpaksa mencari hiburan yang bisa dilakukan di rumah sendiri. Membaca adalah salah satu alternatif paling mudah dilakukan, sehingga persentase minat baca di beberapa jenjang umur, terutama jenjang remaja hingga dewasa meningkat dengan signifikan.Â
Ketika masa pandemi, banyak remaja menghabiskan waktu dengan membaca novel elektronik seperti Wattpad, Ipusnas, dan Google Books. Kenaikan besar juga dipengaruhi oleh pembaca webcomic yang dapat dengan mudah diakses lewat handphone. Meningkatnya ketertarikan untuk membaca novel dan komik elektronik ini memberi sumbangsih besar terhadap persentase minat literasi masyarakat Indonesia. Tak hanya novel dan komik digital, buku-buku nonfiksi berbentuk e-book tentang pengembangan diri juga menjadi minat tersendiri bagi beberapa orang karena faktor pandemi yang membuat beberapa masalah psikologis.
Meski minat membaca mengalami kenaikan, pendidikan malah cenderung mengalami kemunduran. Bagaimana bisa kedua hal yang seharusnya saling berhubungan bisa berbeda jauh? Perlu diingat bahwa pandemi hanya meningkatkan minat membaca, bukan minat belajar. Remaja lebih tertarik membaca sesuatu yang sesuai dengan minat mereka ketimbang buku pelajaran yang tidak mereka sukai, dan itu bukanlah hal yang salah. Namun harus ada keseimbangan antara bacaan tersebut.Â
Alangkah lebih baik bila buku-buku pelajaran bisa menggunakan lebih banyak "penggambaran" yang dapat menjelaskan isi buku dengan bahasa yang lebih mudah. Seolah-olah menjelaskan dengan bahasa yang digunakan novel, atau dengan gambar-gambar berpanel seperti komik, buku pelajaran akan jauh lebih menarik untuk dibaca anak muda.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H