Kata komunikasi memang sudah tidak asing lagi  terdengar di kehidupan kita sehari-hari. Baik di lingkungan masyarakat, sekolah ataupun kampus, bahkan di media maya pun kerap selalu memperbincangkan komunikasi. Sehingga ga heran tuh ada saja orang yang sering berkata seperti ini :
"Ngapain sih belajar komunikasi, orang dari kecil juga kita udah bisa ngomong"
"alaah udah skip, cape-cape kita membaca buku komunikasi, orang komunikasi itu aktivitas sehari-hari, layaknya makan, minum dan tidur. Ga harus dipelajari lagi kalee"
Eits, tunggu dulu, memang betul dengan apa yang dengan orang-orang tersebut bahwa komunikasi adalah aktivitas rutinan yang tidak perlu dipelajari lagi, namun tidak sepenuh nya benar loh
Karena kenapa ?
Mari kita kilas balik pada akhir perang dunia ke-2 yang memicu pengeboman Hiroshima. Yang bermula ketika pemerintah jepang merespon ultimatum AS untuk menyerah yang menyampaikan kata Mokusatsu. Sedangkan menurut Domei artinya "mengabaikan" juga menurut MacArthur artinya "No Comment". Padahal arti yang sesungguhnya adalah "kami akan menaati ultimatum tuan tanpa komentar". Karena terjadinya kesalahan pengambilan makna pesan yang disampaikan satu kata tersebut, alhasil satu kota lah yang menjadi korban hancur berkeping-keping di bom oleh sekutu.
Tidak berbeda jauh dengan yang saya rasakan ketika hadirnya kegiatan pasar malam didaerah saya. Dari mulai persiapan hingga pelaksanaan kegiatan pasar malam tidak henti-hentinya selalu digempur dari berbagai arah oleh orang-orang yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Sehingga dampak dari gempuran tersebut secara bertubi-tubi ketua penyelenggara kegiatan pasar malam merasa kewalahan dan menyatakan "Mundur".Â
Anggota-anggota dan kerja-kerja teknis pasar malam mengartikan bahwa kata "mundur" berarti keluar dan mengundurkan diri dari organisasi. Sehingga roda-roda teknis pasar malam menjadi kelabakan, dimulai dari tidak adanya kefokusan panitia pelaksana pasar malam, dari berbagai pihak mulai masuk dan mengendalikan pasar malam dan lain sebagainya. Namun setelah berdiskusi panjang lebar dengan ketua penyelenggara pasar malam, kata "mundur" maksudnya mundur dari setiap konflik atau pertikaian yang terjadi bukan mundur dari organisasi.
Masih dengan contoh yang tidak jauh berbeda, kesalahan persepsi komunikasi juga dialami oleh seseorang yang bernama Deny yang dirinya dikeroyok oleh supporter Persib Bandung hanya karena gara-gara ia mengacungkan jari kelingking tinggi-tinggi. Hal itu bermula ketika Persib Bandung dipecundangi oleh Persikota Kodya Tangerang 0-1. Bobotoh geram kepada wasit yang merasa tidak diperlakukan dengan adil atas permainan bola tersebut. Berbarengan dengan teriakan bobotoh yang menghina wasit, Deny mengacungkan kelingkingnya, kemarahan itu sontak diarahkan kepada Deny. Deny pun dikeroyok oleh bobotoh. Deny berupa berdalih bahwa tindakannya itu diarahkan kepada wasit. Yang artinya ia sependapat dengan bobotoh.