Kita patut bangga dengan negeri kita Indonesia karena memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah. Kekayaan alam ini tidak hanya didalam Bumi tetapi diatas tanah dan dilangit Nusantara. Sebut saja minyak bumi, batubara, gas alam, panas bumi, air, angin bahkan sengatan matahari. Pantas saja banyak orang bilang Indonesia diciptakan ALLOH SWT sambil tersenyum.
Yang bikin tidak habis pikir belum banyak Sumber Daya Alam negeri ini yang bisa di eksplore menjadi Energi Terbarukan. Bangsa ini masih tergantung dari energi yang berasal dari bahan baku fosil seperti Bahan Bakar Minyak ( BBM), batubara dan gas. Hanya sebagian bahan baku fosil dan energi baru & terbarukan saja yang dikelola Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengurusi energi.
Kita sebagai anak bangsa sudah harus mulai khawatir dengan Jumlah produksi bahan bakar minyak (BBM) yang terus turun setiap tahun. Penurunan tersebut diakibatkan berkurangnya cadangan minyak di dalam negeri akibat minimnya sumber-sumber minyak (fosil) yang baru.
Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, produksi minyak mentah nasional pada 2017 diproyeksikan hanya 661,7 juta barel per hari (bph). Produksi diproyeksikan turun menjadi 643,67 juta bph pada 2018 dan hanya 560,21 juta bph pada 2023.
Untuk menyeimbangkan penurunan maka dilakukan impor. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor migas periode Januari-September 2016 mencapai level USD13,74 miliar. Salah satu hal yang bisa dilakukan agar kemandirian energi dan ketahanan energi tercapai yakni dengan mendorong penggunaan energi alternatif dan energi baru & terbarukan.
Mau tidak mau dengan membaiknya perekonomian dan meningkatnya daya beli masyarakat, penggunaan energi terus meningkat, harus ada solusi untuk memenuhi kebutuhan energi. Energi alternatif sebagai solusi cepat sedangkan energi baru & terbarukan untuk masa kini dan masa depan.
PT Pertamina Melaksanakan Program Konversi Minyak Tanah ke LPG sebagai Energi Alternatif
Untuk penggunaan energi alternatif PT.Pertamina sudah melaksanakannya yakni konversi Minyak Tanah dengan LPG. Liquified Petroleum Gas (LPG) adalah bahan bakar alternatif yang bersih. Selain dapat di gunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, LPG dapat juga dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan (Autogas/Vigas), dan untuk kebutuhan mesin kapal Nelayan.

Potensi Energi Baru dan Terbarukan
Bagaimana dengan energi baru & terbarukan yang berasal dari "proses alam yang berkelanjutan", seperti tenaga surya, tenaga angin, arus air proses biologi dan panas bumi ???....
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bauran pemanfaatan sumber energi per 2015 masih dikuasai oleh energi fosil. Dimana, sumber energi minyak bumi mencapai 43 persen. Diikuti energi batubara sebesar 28 persen kemudian gas bumi 22 persen. Sedangkan penggunaan EBT baru mencapai 6,2 persen.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh kemeterian ESDM tahun 2015, Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar yaitu, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Ini merupakan peluang bagi Pertamina yang merupakan perusahaan plat merah yang pastinya akan lebih mendapatkan dukungan dari pemerintah. Potensi tersebut sejatinya memberikan peluang Pertamina menembus dunia tidak hanya bersinar di negeri sendiri.
PT.Pertamina Menyentuh Energi Baru Terbarukan (EBT)
Ternyata PT.Pertamina (Persero), sebagai BUMN energi tidak tinggal diam. Perusahaan plat merah ini telah mencanangkan pengembangan pembangkit listrik bebasis energi baru dan terbarukan sebesar 1,13 Gigawatt dan produksi biofuel sebesar 1,28 juta KL pada tahun 2019. PT Pertamina (Persero) menggenjot pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang ditargetkan dapat mencapai sekitar 23% dari total bauran energi pada 2025.
Listrik merupakan kebutuhan primer saat ini. Tanpa listrik tools untuk menunjang hidup manusia modern tidak akan berjalan. Melihat kebutuhan listrik yang meningkat dan mulai menurunnya sumber energi yang berasal dari fosil PT.Pertamina membangun pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan.
Pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan akan bersumber dari beberapa sumber energi. Adapun peningkatan kapasitas produksi dari masing-masing pembangkit listrik yaitu ; panas bumi, sebesar 907 MW, solar photovoltaic dan energi angin masing-masing 60 MW, biomassa 50 MW dan mini/microhydro dan ocean energy masing-masing 45MW dan 3MW. Adapun, untuk biofuel sendiri akan terdiri dari green diesel dengan kapasitas 0,58 juta KL per tahun, co-processing green diesel 0,14 juta KL per tahun, co-processing green gasoline 0,23 juta KL per tahun, bioavtur 257.000 KL per tahun, bioethanol sebesar 76.000 KL/tahun, dan 10 ton per hari bio LNG plant.
Pertamina juga akan berinvestasi bisnis hulu Energi Baru dan Terbarukan. Capital expenditure yang diperlukan untuk pengembangan bisnis EBT, di luar panas bumi hingga 2019 diperkirakan mencapai sekitar US$1,5 miliar. Biaya yang cukup besar demi masa depan kemandirian energi.
Bahkan demi memberi contoh kepada perusahaan lain pada sejumlah lokasi PT.Pertamina saat ini sudah menggunakan Solar PV. Diantaranya adalah lokasi PT Badak NGL Bontang, PT Pelita Air Service di Pondok Cabe, RU IV Cilacap dan Kantor Pusat Pertamina di Jakarta.
Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan Tidak Semudah Menghirup Udara
Pemanfaatan sumber daya energi baru & terbarukan sudah menjadi keharusan untuk dikembangkan oleh negeri ini. Negeri yang dalam sebuah bait lagu Koes Plus memiliki keajaiban disebut tongkat dan batu bisa jadi tanaman. Bahan baku produksi energi baru dan terbarukan di Indonesia bisa terbilang relatif mudah didapat, beberapa bahan dapat diperoleh dengan gratis & melimpah, berarti biaya operasional sangat rendah, tidak mengenal problem limbah, proses produksinya tidak menyebabkan kenaikan temperatur bumi, dan tidak terpengaruh kenaikkan harga bahan bakar.

Dikarenakan hal tersebut, sumber daya energi baru dan terbarukan saat ini belum dapat menggantikan kedudukan sumber daya energi fosil sebagai bahan baku produksi energi utama. Selain itu ada kendala lain yakni dalam rekayasa teknologi energi baru dan terbarukan dimana sebagian besar komponen utamanya belum dapat di produksi di Indonesia, jadi masih harus mengimport dari luar negeri.
Adapun kendala lain yaitu biaya investasi dalam pengembangan yang tinggi secara finansial sehingga butuh kebijakan negara, belum tersedianya data potensi sumber daya yang lengkap salah-satunya Sumber Daya Manusia, terbatasnya studi dan penelitian yang dilakukan, tehnologinya masih dimiliki negara maju, secara ekonomis belum dapat bersaing dengan pemakaian energi fosil. Dalam kontinuitas penyediaan energi listrik rendah, karena sumber daya energinya sangat bergantung pada kondisi alam yang perubahannya tidak tentu, misal kecerahan langit dan hembusan angin.
---ooo00ooo---
Memang secara logika seharusnya negara ini sudah dapat memanfaatkan energi baru dan terbarukan karena bahan bakunya melimpah. Tetapi pikiran kita tidak semudah realisasi. PT.Pertamina (persero) yang mengemban tugas negara penyediaan energi bagi masyarakat sudah mulai mengembangkan energi baru dan terbarukan ini.
Salam Hangat Blogger Udik dari Cikeas - Andri Mastiyanto
Instagram  I  Twitter  I   Blog  I   Web   I   Email : mastiyan@mail.com
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI