Setelah itu, saya tak menyerah. Berulang kali saya mencoba kembali. Tapi tetap mereka tak juga ditemui. Rumah kini hanya sekadar lokasi.
Ternyata begini rasanya bepergian tanpa kepulangan. Perasaan tercabik-cabik, dan rindu tak pernah tersalurkan.Â
Mungkin Tuhan memilih saya yang berjuang, karena Ia tahu saya cukup kuat untuk melaluinya. Meski terkadang itu hanya kata-kata hiburan yang saya tanamkan agar tak berujung pada putus asa.
Tapi saya selalu percaya bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan pahala orang yang bersabar dalam penantian. Kini 'rumah' itu telah saya temukan kembali, meski di tempat yang berbeda.
Saya tidak pernah menuntut jawab atas kejadian di masa lalu. Yang saya tahu, saya hanya tidak ingin kehilangan rumah untuk yang kedua kalinya.
Bisa mengulang kembali memori dan memperbaiki apa yang rusak, saya bersyukur masih dikelilingi ayah, ibu, adik, dan kakak saya.
Meski harus terpisah jarak dan waktu, setidaknya saya masih memiliki kampung halaman untuk dirindukan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI