Tidak ada peristiwa yang menggemparkan selain baru-baru ini ada acara "sunat". Ya benar, sunat tapi bukan anak orang yang disunat melainkan vonis seseorang yang disunat.
Begitulah yang tertera di headline berita Kompas.Com pada 9 Maret (9/3/22) lalu, yang kurang lebih judulnya tertulis "Alasan MA Sunat Hukuman Edhy Prabowo: Bekerja Baik Selama Jadi Menteri".
Edhy Prabowo yang menjadi terdakwa atas kasus korupsi benih lobster mendapatkan potongan hukuman yang awalnya selama 9 tahun menjadi 5 tahun penjara.Â
Hal tersebut dikarenakan kinerja baik yang dilakukannya selama masih menjadi menteri membuat bentuk pertimbangan dari 3 hakim kasasi yaitu Gazalba Saleh, Sofyan Sitompul, dan Sinintha Yuliansih Sibarani dalam memangkas hukumannya.
Selain itu Edhy Prabowo juga mendapat pidana berupa denda 400 juta dengan ketentuan jika tidak dibayar diganti dengan kurungan 6 bulan penjara. Juga hak politik yang dimiliki oleh Edhy Prabowo dicabut selama kurang lebih tiga tahun.
Melihat dari putusan hakim tersebut membuat pepatah yang berbunyi "setetes nila rusak susu sebelanga" tidak benar adanya. Kita bisa menerima kesalahan setiap orang jika track record yang dimilikinya masih baik.Â
Jadi masih ada harapan bagi kita yang melakukan perbuatan kriminal untuk bebas atau dipotong masa hukumannya asalkan mempunyai track record baik yang lumayan banyak.
Kinerja Baik Edhy Prabowo yang Dipertimbangkan Hakim Kasasi
Tunggu sebentar anda yang marah karena putusan hakim ini. Mari kita lihat secara seksama alasan mereka menyunat vonis dari mantan menteri perikananan kita ini.Â
Menurut hakim kasasi Edhy Prabowo selama menjabat menjadi menteri mensejahterakan masyarakat dengan memperdayakan nelayan dengan pembudidayaan lobster yang sangat besar di Indonesia.