Mohon tunggu...
Radex Nugraho
Radex Nugraho Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis, Peternak Lebah, Pelajar Mandarin, Pecinta Anjing, Akupunturis, Pekebun, Warga Kota Salatiga dan pemilik lapak Tokopedia dengan ID "Amanah Raja"

Penulis, Peternak Lebah, Pelajar Mandarin, Pecinta Anjing, Akupunturis, Pekebun, Warga Kota Salatiga dan pemilik lapak Tokopedia dengan ID "Amanah Raja"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Felix Xiaw, Deny Siregar, Abu Janda, dan Akupuntur Sengat Lebah

9 Desember 2017   09:10 Diperbarui: 9 Desember 2017   10:33 2020
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Belajar tentang akupuntur, bahasa mandarin, dan beternak lebah adalah suatu kesukaan tersendiri bagi saya. Mengetahui guratan guratan yang aneh memiliki makna, mengetahui ilmu ilmu akupuntur yang biasa saya tonton di film bisa dipelajari, dan mengetahui lebah dan kehidupannya adalah hal yang menyenangkan bagi saya. 

Setelah kurang lebih saya belajar bahasa mandarin dan membeli buku buku tentang akupuntur sengat lebah di China, sambil melanjutkan pekerjaan saya di Indonesia ini, sembari mengisi waktu senggang saya menerjemahkan buku mandarin tentang akupuntur sengat lebah. 

Di buku yang saya terjemahkan ini saya menemukan majunya ilmu akupuntur sengat lebah di China. Awalnya saya mengira akupuntur di China adalah tradisional dan menggunakan ilmu tenaga dalam, sehingga untuk menguasainya harus bisa melihat aura dan memiliki kemampuan tenaga dalam melalui meditasi sehingga bisa menyembuhkan orang, namun di buku akupuntur sengat lebah, terbitan seorang profesor (S3) dari Universitas Ilmu Pengobatan China guangzhou ini, saya menemukan bahwa mereka sudah memakai riset dan data data ilmiah. 

Ini sangat mengejutkan saya. Yang saya salut adalah mereka dari awal sekali sudah membuat catatan tentang pengobatan (sebelum masehi sudah ada) dan terus menerus catatan pengobatan itu disimpan, jika ada riset lagi mereka mencatatnya dan menambah simpanan catatan, dan terus menerus seperti itu sampai terdapat basis data catatan. Mereka juga melakukan berbagai riset ilmiah terhadap catatan jaman dahulu dan menguji mana resep yang dapat teruji secara ilmiah dan  tidak . 

Setelah itu terdapatlah ilmu akupuntur dan sengat lebah secara ilmiah, yang dibuat buku dan catatannya. Mereka juga membuat perkumpulan dan situs web yang dapat diakses bebas untuk berkontribusi memberikan dan mendapatkan data akupuntur serta terapi sengat lebah. Kekaguman saya adalah, mereka tidak memandang kepentingan siapa yang diuntungkan, atau apa yang saya dapat, tetapi mereka bekerja sama dan berusaha agar akupuntur dan terapi sengat lebah semakin maju. 

Sembari mengartikan buku tentang terapi sengat lebah ini, saya membuka media sosial saya, dan terantuk dengan debat ILC yang diisi oleh Felix Xiao, Deny Siregar dan Abu Janda. 

Saya amat terganggu dengan banyaknya komentar dari teman teman saya, baik yang pro maupun yang kontra, karenanya saya mencoba menyimak di Youtube tentang apa yang terjadi. Ternyata yang diributkan adalah hal yang terjadi di Indonesia, dan terlepas dari pro dan kontra yang ada, saya melihat, terdapat 3 kemampuan berbeda yang terlihat. 

Seorang yang pandai dalam agama dan berorasi, seorang yang pandai dalam menulis dan mengungkapkan fakta, dan seorang yang pandai dalam menolong orang dan bertoleransi. 

Saya melihat ketiga kemampuan itu seperti anggota tubuh manusia, tidak dapat dikatakan mana yang lebih baik. Jika seseorang yang pintar berorasi disuruh menulis dan menolong sesamanya, mungkin dia juga akan kerepotan, sama seperti yang pintar menulis kerepotan membantu sesamanya dan mengungkapkan pendapat secara oral maupun orang yang memiliki kemampuan sosial yang tinggi diajak berbicara tentang agama, berorasi dan menulis dengan lugas. 

Sambil menerjemahkan buku tentang akupuntur sengat lebah ini, saya melihat mereka ini mungkin seperti indonesia, terdapat banyak orang, suku dan bangsa, dan berbeda beda.

Jika masing masing mengunggulkan diri mereka sendiri, saling menyerang satu sama lain, maka yang ada adalah perpecahan, tetapi jika masing masing dapat saling merendahkan diri dan bekerja sama untuk memajukan indonesia, maka saya rasa bangsa kita ini tidaklah kalah dengan bangsa China, yang notabene memiliki tanah air yang lebih miskin dibanding dengan kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun