Mohon tunggu...
Rachmat Budi Muliawan
Rachmat Budi Muliawan Mohon Tunggu... -

Rachmat Budi Muliawan ------------------------------------------- \r\n"Sepintas bahasa tampak sebagai himpunan kata-kata, tetapi bahasa tidak sesederhana itu. Lebih sekedar perbendaharaan kata-kata, bahasa merupakan suatu sitem tanda, yang memungkinkan menjalankan fungsi hakikinya sebagai sarana representasi dan komunikasi."

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Lakon Mesti Kita Jalani

26 November 2011   12:43 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:10 52
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Foto dari Irianto Manik Tok ! Tok ! Sandiwara akan segera dipentaskan lakon demi lakon akan segera dimainkan aku berdiri di balkon sedang kau menangis di sisi lain. Wah, derita apakah yang sedang melandamu. Barangkali kau tak akan pernah tahu apa artinya semua ini Kita cuma pemain-pemain murahan yang mesti patuh pada setiap aturan. Tok ! Tok ! Tok ! Babak kedua dibuka kita semua berkaca, berbenah diri, introspeksi Kita tak perlu menyesal apalagi mengomel sepanjang hari tanpa henti lakon mesti kita jalani peran yang harus kita sandang jangan sekali-kali dipungkiri. Kau bilang benci pada setiap keadaan, pada setiap kehidupan, pada setiap permainan, pada setiap perjalanan yang melelahkan. Wah, ini namanya kacau ! sudah kubilang kita mesti patuh pada setiap aturan-aturan Bukankah dalang yang punya kemauan ? Tok ! Tok ! Tok ! Sandiwara akan diakhiri kita bisa saja bilang : "Tak perduli, tak perduli," tapi apakah kau mampu hindari setiap lakon, setiap peran, setiap babak demi babak kehidupan yang mesti kita jalani, mesti kita patuhi ? Kau bisa saja bilang sekali lagi : "Tak perduli!" Tapi kita cumalah manusia ringkih yang tak mampu berbuat apa-apa atas putaran lakon yang ditentukan sutradara. Tok ! Tok ! Tok ! Layar hampir ditutupkan. Kekasih, di sudut balkon kau terisak menyedihkan peranmu memang derita sepanjang hari kita tak mampu berbuat apa-apa setiap pemain punya peran sendiri-sendiri yang mesti dimainkan sebaik-baiknya tak perlu sedih dan menyesali diri Yogya, 2009

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun