Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Platform seperti Instagram menyediakan wadah bagi individu untuk berbagi momen hidup mereka melalui foto dan video, yang secara tidak langsung mendorong interaksi sosial dalam bentuk perbandingan diri dengan orang lain.Â
Namun, seiring dengan semakin banyaknya waktu yang dihabiskan di platform tersebut, muncul kekhawatiran terkait dampak psikologisnya terhadap penggunanya.
Sebuah studi oleh Ha Sung Hwang yang diterbitkan dalam KSII Transactions on Internet and Information Systems pada tahun 2019 menunjukkan hubungan antara penggunaan Instagram dan depresi, terutama melalui mekanisme perbandingan social (Ha Sung Hwang, 2019).Â
Penelitian ini mengungkapkan bahwa semakin sering seseorang menggunakan Instagram, semakin besar kemungkinan mereka untuk terlibat dalam perbandingan sosial ke atas, yang berkontribusi terhadap peningkatan gejala depresi.Â
Dalam survei terhadap 245 mahasiswa yang dilakukan oleh Hwang, ditemukan bahwa 34% dari responden merasa lebih tertekan setelah membandingkan diri mereka dengan orang lain yang tampak lebih baik di Instagram.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa 26% dari variasi perbandingan sosial ke atas dihasilkan dari frekuensi penggunaan Instagram dan aktivitas seperti melihat status orang lain atau mengomentari foto (Ha Sung Hwang, 2019) .Â
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memiliki potensi untuk memperkuat ikatan sosial, ada sisi gelap yang perlu diperhatikan, terutama terkait dengan dampak perbandingan sosial yang dapat memicu perasaan rendah diri dan depresi.Â
Terlepas dari manfaat media sosial sebagai alat komunikasi, penting bagi kita untuk mengakui risiko yang ditimbulkannya terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan pengguna muda yang rentan.
***
Pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental, khususnya melalui perbandingan sosial, telah menjadi topik yang semakin banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir.Â