Globalisasi ekonomi adalah proses integrasi ekonomi global yang semakin erat, ditandai dengan pergerakan bebas barang, jasa, modal, dan tenaga kerja antar negara.Perkembangan teknologi dan komunikasi yang pesat telah menjadi pendorong utama globalisasi ekonomi, memfasilitasi perdagangan internasional, investasi asing langsung, danintegrasi pasar keuangan.
Peran negara dalam ekonomi dunia pun mengalami perubahan signifikan akibat globalisasi. Dahulu, negara memegang kendali penuh atas perekonomian domestik, mengatur kebijakandan aturan untuk mengendalikan aktivitas ekonomi. Namun, dalam era globalisasi, negara
lebih berperan sebagai fasilitator pertumbuhan ekonomi, bukan lagi regulator yang ketat.Negara dituntut untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi asing,perdagangan bebas, dan arus modal internasional. Ini berarti negara harus mengurangihambatan perdagangan, deregulasi, dan menyederhanakan birokrasi untuk menarikinvestasi dan meningkatkan daya saing.
Tantangan terbesar bagi negara dalam era globalisasi adalah menyeimbangkan integrasi ekonomi global dengan kedaulatan nasional. Di satu sisi, negara perlu membuka diri terhadap investasi asing dan perdagangan internasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, negara harus menjaga kedaulatan ekonomi dan melindungi kepentingan nasional dari pengaruh asing yang berlebihan.
Singkatnya, globalisasi ekonomi merupakan proses yang kompleks yang membawa dampak positif dan negatif bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Peran negara dalame konomi global telah berubah, dan negara harus mampu menyeimbangkan integrasi ekonomi global dengan kedaulatan nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Fase Awal: Menjelajahi Dunia (abad ke-15 hingga abad ke-19)
1. Ekspansi kolonial: Dimulai dengan penjelajahan laut oleh bangsa Eropa pada abad ke-15, era ini menandai awal integrasi ekonomi global. Negara-negara Eropa, seperti Inggris, Spanyol, dan Portugal, melakukan ekspansi kolonial ke berbagai wilayah dunia, seperti Amerika, Afrika, dan Asia. Ekspansi ini membawa dampak besar pada perdagangan global. Barang-barang seperti rempah-rempah, kapas, dan kopi dari koloni mengalir ke Eropa, sementara barang-barang manufaktur dari Eropa dikirim ke koloni.
2. Revolusi Industri: Abad ke-18 menandai dimulainya Revolusi Industri di Inggris, yang kemudian menyebar ke Eropa dan Amerika. Perkembangan teknologi baru, seperti mesin uap dan mesin tenun, mendorong peningkatan produksi dan efisiensi. Hal ini memicu pertumbuhan perdagangan internasional, khususnya untuk produk manufaktur.
3. Liberalisasi perdagangan: Pada abad ke-19, terjadi peningkatan liberalisasi perdagangan internasional. Perjanjian perdagangan internasional, seperti Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara negara-negara Eropa, mendorong pengurangan tarif dan hambatan perdagangan lainnya. Hal ini mempermudah pergerakan barang dan jasa antar negara, mendorong pertumbuhan ekonomi global.
Fase Modern: Integrasi yang Semakin Mendalam (abad ke-20 hingga sekarang)
1. Pasca Perang Dunia II: Setelah Perang Dunia II, dunia memasuki era baru dengan fokus pada pemulihan ekonomi dan kerja sama internasional. Pendirian lembaga-lembaga internasional seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi tonggak penting dalam mengatur perdagangan global dan mendorong pertumbuhan ekonomi.