Sejak beberapa tahun terakhir orientasi kecantikan di Indonesia telah berubah dari Amerika sentris menjadi Korean sentris. Perubahan orientasi tersebut dikarenakan budaya Korean Wave yang masuk di Indonesia sejak awal 2000-an hingga saat ini semakin diminati oleh generasi milineal. Salah satunya industri hiburan Korea, seperti series drama dan grup penyanyi yang banyak digemari.Â
Akhirnya, fenomena tersebut menyebabkan budaya asal Korea Selatan pelan-pelan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti gaya berpakaian yang terbuka dengan baju ketat.Â
Tak sedikit juga budaya lainnya dari negeri Ginseng tersebut diadopsi oleh masyarakat Indonesia, seperti gaya bahasa dan makanan. Terutama generasi milineal yang memilih Korean fashion & Korean beauty sebagai orientasi utama dalam kecantikan dan berpenampilan.
K-beauty seakan memiliki daya tarik tersendiri karena merepresentasikan kecantikan yang natural dan sederhana. Itu bisa dilihat dari gaya berpakaian tokoh publik asal Korea, seperti aktris dan penyanyi yang memiliki kulit wajah cerah dengan riasan make-up yang tipis.Â
Tampilan tersebut seakan membius semua kalangan untuk memiliki tampilan serupa. Apalagi sesuai dengan karakteristik generasi milenial yang senang pada kepraktisan dan kemudahan.Â
Seperti jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Koran SINDO, bahwa sebanyak 59% milenials suka sesuatu yang praktis. Biasanya kalangan milenial mengikuti kiat-kiat kecantikan ala Korea melalui Youtube. Selain itu, menggunakan produk perawatan wajah, seperti produk skincare guna mendapatkan kulit wajah yang cerah dan putih.
Namun, tidak semua kalangan milenial yang berada pada rentang usia 24 -- 40 tahun mampu untuk membeli produk perawatan wajah dari Korea asli. Situasi tersebut dilihat sebagai peluang oleh pengusaha negeri ini dengan membuat produk perawatan wajah yang memberi manfaat mencerahkan wajah. Itu tentunya hal yang patut ditiru karena bisa membuka lapangan kerja baru dengan kritis memperhatikan trendsetter di Indonesia.Â
Bahkan pengusaha produk skincare tersebut mengadakan pameran di luar negeri sebagai produk lokal Indonesia. Akan tetapi, yang menjadi concern ialah penggunaan unsur budaya Korea pada pesan iklan produk skincare.Â
Misalnya, penggunaan kata 'brighter' dan 'glowing' dalam kalimat iklan. Pesan tersebut sangat mungkin mendorong adanya stereotip jika kulit cerah dan putih adalah standar kecantikan baru untuk perempuan.
Padahal realitanya Indonesia bukan negara yang memiliki karakteristik warna kulit demikian. Indonesia tergolong dalam Ras Mongoloid yang memiliki ciri-ciri kulit kuning sampai sawo matang dan mata besar. Sementara itu, negara Korea Selatan termasuk dalam negara dengan ras Asiatic Mongoloid yang memiliki ciri-ciri kulit kuning langsat dan mata sipit.Â
Dengan fakta tersebut bukankah fenomena tersebut merepresentasikan sebuah 'krisis identitas'. Krisis identitas ditandai saat seseorang merasa identitas aslinya tidak memberikan perasaan bangga dalam konteks tertentu.Â