"Iya ini semua gara-gara Ibu, selalu memaksakan kehendak. Kantor Ayah diperkirakan akan gulung tikar beberapa bulan kedepan."
Memaksakan? Ibu memaksakan apa hingga ayah marah seperti itu. Batinku
"Assalamualaikum" ucapku sambil menuju masuk rumah.
"Waalaikumsalam" sahut Ayah dan Ibu bersamaan. Ayah langsung memasuki kamarnya, ingin rasanya ku tanyakan pada Ibu apa yang sudah terjadi. Aku mulai ingat pada niat awal ku untuk meminta izin mengikuti seleksi olimpiade Fisika.
"Bu, a..a..ku boleh tidak untuk mengikuti seleksi olimpiade Fisika?" kataku membuka pemebicaraan.
Ibu tak menjawab pertanyaanku, ibu terlihat sedang menahan air matanya. Raut wajah ibu berubah, dengan wajah merah dan menunduk. Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.
"Apa nak? Tadi kamu..." belum sempat ibu melanjutkan perkataannya aku sudah memotongnya.
"Enggak kok bu, Nana ganti baju dulu ya bu." Kataku sambil beranjak ke kamar.
Benar saja, saat aku masuk kamar aku mendengar isakan tangis Ibu. Ingin rasanya ku memeluk Ibu dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun aku tak kuasa. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku takut dan malu untuk melakukan semua itu. Di sisi lain aku mendengar suara bantingan dari kamar Ayah dan Ibu. Kak Shea pun pulang dan langsung mengetuk pintu kamar Ayah. Saat aku keluar dan melihat keadaan Ayah, Ayah sudah dalam keadaan pingsan.
Ayah mengidap penyakit diabetes dan juga darah tinggi. Kebiasaan Ayah ataupun Ibu, jika mereka sedang ada masalah mereka meminum obat dengan dosis yang tinggi. Ibu semakin terisak begitupun Kak Shea.
***