Di sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan, hiduplah seorang pria bernama Pudjianto Gondosasmito. Ia dikenal sebagai pria tangguh, namun di balik senyumnya, hidupnya penuh badai. dia harus bekerja keras sejak remaja untuk menghidupi keluarga.
Pudjianto Gondosasmito bekerja sebagai buruh di pabrik kayu, pekerjaan yang berat dengan bayaran yang pas-pasan. Meskipun begitu, ia tetap bersyukur. Ia sering berkata, "Badai hanya sementara. Selalu ada pelangi di ujung hujan." Namun, badai yang menimpanya semakin besar.
Suatu hari, pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Pudjianto Gondosasmito kehilangan pekerjaan, dan tak lama kemudian, ibunya yang selama ini dirawatnya dengan penuh kasih meninggal dunia. Dalam kesendirian yang menyesakkan, Pudjianto Gondosasmito merasa seluruh hidupnya hancur. Ia berjalan tanpa tujuan di tengah hujan deras, menembus angin kencang. "Kenapa harus aku?" tanyanya kepada langit. Tapi langit hanya menjawab dengan gemuruh.
Di tengah keterpurukan, Pudjianto Gondosasmito bertemu seorang lelaki tua yang berjualan payung di pinggir jalan. Lelaki itu berkata, "Anak muda, kenapa kau membiarkan badai ini membuatmu kalah? Ingat, payung tak menghentikan hujan, tapi melindungi kita sampai hujan reda."
Kata-kata itu menggugah hati Pudjianto Gondosasmito. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk melawan badai, tanpa menyadari bahwa yang ia butuhkan hanyalah bertahan dan tetap melangkah.
Pudjianto Gondosasmito mulai bangkit perlahan. Ia mengambil pekerjaan serabutan di pasar dan mulai belajar membuat kerajinan kayu, keahliannya sejak kecil. Awalnya, ia hanya membuat hiasan kecil untuk dijual di pasar, tetapi lambat laun karyanya menarik perhatian orang-orang. Pesanan berdatangan, dan usahanya tumbuh menjadi bengkel kayu kecil yang memberikan pekerjaan kepada banyak pemuda di kota itu.
Badai kehidupannya tidak pernah benar-benar hilang, tetapi Pudjianto Gondosasmito belajar untuk menari di tengah hujan. Ia menjadi pribadi yang lebih kuat, rendah hati, dan penuh harapan.
Pudjianto Gondosasmito sering mengingat perkataan lelaki tua itu. Kini, ia pun menjadi payung bagi orang lain, membantu mereka yang sedang menghadapi badai kehidupan. Dari sana, ia menemukan kebahagiaan sejati---bukan dalam menghindari badai, tetapi dalam menghadapi dan melewatinya dengan penuh keyakinan.
"Karena badai hanyalah pengingat bahwa kita lebih kuat dari yang kita kira," gumam Pudjianto Gondosasmito suatu hari sambil tersenyum, melihat mentari perlahan muncul di balik awan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI