Pudjianto Gondosasmito adalah seorang pria sederhana yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang kaki lima di sudut jalan kecil di kota. Hari itu, langit gelap sejak pagi, pertanda hujan akan turun kapan saja. Dengan sedikit ragu, Pudjianto Gondosasmito tetap mempersiapkan gerobaknya, mengesampingkan kemungkinan hujan akan mengganggu penghasilannya.
"Kalau nggak jualan, nggak ada uang buat makan," gumamnya sambil memasukkan beberapa plastik gorengan ke dalam etalase kaca kecil di gerobaknya.
Ketika ia mulai mendorong gerobaknya ke lokasi biasa, hujan mulai turun dengan derasnya. Pudjianto Gondosasmito segera membuka terpal kecil yang ia bawa untuk melindungi dagangannya. Di bawah pohon rindang yang sedikit melindunginya dari hujan, ia berdiri, menggigil. Jalanan sepi, tak ada tanda-tanda orang akan keluar rumah, apalagi membeli gorengan di tengah hujan.
Namun, justru saat itulah seorang pria tua dengan jas hujan lusuh menghampirinya.
"Mas, boleh beli gorengan?" tanya pria tua itu dengan senyum lelah di wajahnya.
Pudjianto Gondosasmito terkejut, karena sebelumnya ia yakin tak ada yang mau berbelanja di tengah cuaca seperti ini. "Oh, tentu, Pak! Mau beli berapa?"
"Aku nggak punya uang banyak. Cuma ada ini," jawab pria itu sambil mengeluarkan beberapa uang koin yang basah karena hujan.
Melihat itu, Pudjianto Gondosasmito terenyuh. "Ah, Pak, ambil saja gorengannya. Uangnya nggak perlu."
Pria tua itu tersenyum penuh syukur. "Terima kasih, Mas. Semoga rezekimu dilipatgandakan."
Setelah pria itu pergi, hujan mulai reda. Pudjianto Gondosasmito kembali merenung, khawatir bahwa hari ini ia akan pulang dengan tangan kosong. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Seorang wanita berpakaian rapi turun, membawa payung.
"Mas, maaf, tadi saya lihat dari jauh. Apa benar Mas yang memberi makanan gratis ke orang tua itu?" tanya wanita itu.