Tak ada orang yang menikah untuk kemudian mengharapkan perceraian. Sebisa mungkin semua pasangan yang menikah menghindari masalah yang dapat menyebabkan perceraian. Setiap pasangan ingin pernikahan mereka langgeng, awet sampai usia senja.
Sayangnya, alam semesta tidak memiliki agenda tetap. Dalam mengarungi biduk rumah tangga, selalu ada goncangan yang dapat meretakkan perahu pernikahan kita.
Menikah Muda atau Nanti Saja?
Salah satu faktor yang kerap menjadi kambing hitam dari perceraian adalah usia saat menikah. Hubungan antara usia saat menikah dan risiko perceraian hampir linier: Semakin tua kita saat menikah, semakin rendah peluang perceraian dapat terjadi.
Bukan misteri mengapa orang yang menikah saat remaja menghadapi risiko perceraian yang tinggi. Para ahli sudah lama mengetahui dan mengingatkan bahwa pernikahan dini adalah prediktor kuat perceraian.
Ingat saja masa-masa pacaran kita saat SMA. Bersamaan dengan kegembiraan cinta pertama kita, muncul pula kecemburuan, rasa tidak aman, tekanan dari orangtua atau teman, dan keraguan tentang kondisi masa depan. Sekarang bayangkan menikah dalam kondisi yang sama.
Sementara gagasan bahwa menikah di usia yang lebih tua memiliki risiko lebih rendah terhadap prediksi perceraian juga masuk akal. Seiring pertambahan usianya, kemungkinan setiap pasangan lebih stabil secara finansial, memiliki mental dan kedewasaan diri yang lebih matang, punya tujuan hidup yang lebih jelas, dan telah menghabiskan cukup banyak waktu menjalin hubungan dengan pasangannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Namun, apa pun bisa terjadi. Baik menikah muda maupun menikah di usia yang kata banyak orang sudah terlambat, keduanya sama-sama memiliki risiko berakhir di perceraian, sekalipun rasionya berbeda.
Renungkan Motif Atau Alasan Kita Ingin Menikah
Guna meminimalisir konflik agar ikatan pernikahan tidak berujung di tangan hakim pengadilan agama, banyak pakar dan pemerhati keluarga menyarankan agar setiap pasangan yang hendak menikah melakukan konsultasi dulu. Hal ini perlu dilakukan agar pasangan memahami betul apa sebenarnya niat dan tujuan menikah itu.Â
Bagaimana bila sudah terlanjur menikah? Sama saja. Agar biduk rumah tangga tetap terjaga, pasangan yang sudah menikah juga dianjurkan untuk berkonsultasi.
Konsultasi di sini bukan berarti harus datang ke psikolog rumah tangga atau pakar pernikahan, melainkan refleksi atas niat dan tujuan pernikahan. Kita bisa melakukannya dengan bertanya pada orang yang sudah banyak makan asam garam pernikahan hingga bertukar pikiran dengan pasangan.