Usai di lepas Bentoel, prestasi Arema semakin memuncak hingga berhasil menjadi juara Indonesia Super League di tahun 2010, dengan pelatih Robert Rene Alberts.
Dualisme Arema muncul berbarengan dengan dualisme PSSI dan kompetisi. Ketika PSSI mengesahkan IPL sebagai kompetisi resmi, ketua Yayasan Muhammad Nur bersama Lucky mendaftarkan Arema Indonesia untuk mengikuti kompetisi IPL. Sementara itu, muncul kubu lain dalam Yayasan Arema, yakni kubu Rendra Kresna yang beralasan saat pelepasan saham Arema oleh Bentoel, pihak Rendra lah yang mendapat amanat. Dua kubu ini kemudian sama2 membentuk klub, yang mana keduanya mengikuti kompetisi yang berbeda pula. Arema versi M Nur, yang kemudian mendapat suntikan dana dari konsorsium Ancora mengikuti kompetisi IPL, sementara Arema versi Rendra yang mendapat suntikan dana dari Cronus mengikuti kompetisi ISL. Anehnya, keduanya menggunakan badan hukum yang sama, yakni PT. Arema Indonesia, meski kemudian Arema versi Rendra mengganti nama menjadi Arema Cronus, tapi itu tidak mengubah badan hukumnya.
Dalam perkembangan terkini, dualisme itu masih tetap ada. Langkah PSSI dengan mengabulkan semua permohonan klub terhukum/baru membuat Arema kembali terbagi dua. Pihak almarhum Lucky, yang kini diwakili oleh istrinya Novi mengklaim sebagai pemegang badan hukum PT. Arema Indonesia, dan berlaga di Liga 3. Sementara Arema Cronus, yang dari awal memang menggunakan badan hukum Arema Indonesia memilih untuk membuat badan hukum baru, PT. Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia, dan mengubah nama klub menjadi Arema FC berlaga di Liga 1.
Akan tetapi, di hari jadi yang ke-30 kali ini, persoalan dualisme tersebut sementara terpinggirkan. Aremania seakan tidak peduli, klub mana yang 'asli' dan mana yang 'baru jadi'. Aremania hanya mengingat satu hal, di tanggal inilah klub kebanggaan mereka lahir.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H