Mohon tunggu...
Pradhany Widityan
Pradhany Widityan Mohon Tunggu... Buruh - Full Time IT Worker

Full Time IT Worker

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Lombok 03 : Indahnya Segara Anak dan Jalur Torean, Gunung Rinjani

17 Juni 2016   05:34 Diperbarui: 26 Juni 2016   11:32 227
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Keluarga Berlatar Danau Segara Anak (Foto : Fadly Ucrit - https://www.facebook.com/fadly.ucrit)

Benar kata Bang Edam. Camping di tepi sungai putih atau kokok putih memang pilihan tepat. Sedikit lewat petang kita tiba, tenda langsung didirikan. Ini adalah waktu paling sepi selama kita mendaki. Tak ada tenda lain selain kita. Pendaki pun hanya sedikit kita temui di sepanjang jalur ini. Di bawah pepohonan pinus, sambil membuat api unggun, malam itu di jalur Torean adalah malam paling sempurna yang saya rasakan. Sepi, tenang, sendu, dan bagi sebagian teman saya, mistis, sungguh terasa. Jauh dari hiruk pikuk keramaian pendaki yang selama ini menjadi citra Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan “gunung wisata” lainnya. Tapi walau bagaimanapun, geliat wisata gunung yang membludak tidak bisa dipersalahkan. Sekarang, segala fasilitas lengkap tersedia bagi siapa saja, baik pro, amatir, tidak tahu medan, tua, muda, siapa pun untuk bisa menikmati gunung. Asal bisa bayar, kita cukup bawa diri saja.

Camping Sepi Di Pinggir Kokok Putih (Foto : Fadly Ucrit - https://www.facebook.com/fadly.ucrit)
Camping Sepi Di Pinggir Kokok Putih (Foto : Fadly Ucrit - https://www.facebook.com/fadly.ucrit)
Pemandangan yang memanjakan mata belum usai. Di pagi hari kokok putih jauh lebih menawan. Dikelilingi dinding gunung yang menjulang, sungai dengan batu-batu gunung besar mengalir deras, dan air terjun, sungguh seperti sebuah lukisan. Waktu kita kembali tersita di sisi Rinjani yang sepi ini. Di sepanjang perjalanan pulang yang tidak bisa dikatakan turun, karena banyak naiknya juga, pemandangan tak henti-hentinya membuat kita berdecak kagum. Saran saya, jangan habiskan baterai kamera hanya untuk puncak. Perjalanan turun, apa lagi jika lewat jalur Torean, adalah sebuah keindahan lain yang tidak boleh hanya dipandang mata.

Air terjun, kokok putih tampak dari atas bukit, tebing-tebing hijau nan curam yang diselingi kabut, padang ilalang setinggi pinggang, semua membawa aura petualangan. Memanjakan mata dan perasaan. Ini pemandangan gunung terindah yang pernah saya rasakan. Jika diimajinasikan, tempatnya seperti di film The Hobbit atau Lord of The Ring. Mirip sekali. Lewat jalur ini memang indah, namun butuh kehati-hatian di beberapa titik. Merayap di dinding tebing bisa menjadi petaka jika tidak hati-hati.

Lepas naik turun relief bukit, jalur selanjutnya adalah hutan. Di sini sudah tidak ada decak kagum. Kadang diganti keluh kelelahan. Hutan di jalur Torean ini sangat berbeda dengan jalur Sembalun. Hutan hujan tropis ini masih sangat terjaga keasliannya. Hutan yang rapat, membosankan, dan panjang. Hanya berjalan, terus berjalan dan berharap cepat keluar sebelum gelap.

Panorama Kokok Putih (Dok. Pribadi)
Panorama Kokok Putih (Dok. Pribadi)
Sempat was-was karena gelap tiba sebelum keluar hutan, ditambah gerimis sempat turun ketika senja mulai hilang. Namun semua teratasi, karena tidak lama kemudian pohon pisang, jagung, dan buah-buahan lain tampak. Menandakan sudah tiba di ladang penduduk. Terus berjalan hingga bertemu kandang ternak, lalu lampu, lalu rumah, lalu penduduk, lalu jalan aspal, dan kita berlari meluapkan kegembiraan saat akhirnya tiba di Desa Torean.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun