Kita sering melihat seseorang yang kita kenal dulunya “biasa saja” kini berubah menjadi sosok yang lebih baik. Entah itu dalam tutur bahasa, maupun segi beragama. Kalau kata ibu-ibu kompleks “bu Fulan sekarang lebih agamis ya”.
Hal ini juga banyak kita temui di sosial media. Orang yang dulu status facebooknya “pecicilan” sekarang selalu bawa hadis dan ayat suci Al-quran, sungguh mulia. Ada juga Instagram dengan foto-foto celana cingkrang dan hijab panjang dipajangkan dengan indah. Tak lupa dihiasi caption yang menjelaskan panjang lebar bahwa si pemilik foto kini sudah berhijrah (katanya).
Hijrah bisa berarti pindah dari satu tempat ketempat lain, ataupun berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dalam hal ini tentu saja hijrah kita artinya menjadi yang lebih baik lagi. Namun pertanyaanya adalah, apakah dengan menunjukan “kita berubah menjadi lebih baik” adalah hal yang baik pula ?
Untuk menjawab hal itu kita harus mengetahui dulu pengertian dari RIYA. Pengertian riya menurut istilah yaitu melakukan ibadah dengan niat supaya ingin dipuji manusia. Imam Al-Ghazali mengtakan “Riya adalah mencari keududukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan”. Untuk mengetahui si pelaku Riya ini tentu saja hanya yang bersangkutan dan Allah saja yang tau.
Apakah dengan menunjukan di status Facebook atau Instagaram bahwa “kita berubah menjadi lebih baik” adalah hal yang baik ? atau justru itu termasuk riya ? lemparkan pertanyaan itu kepada setiap hati kecil kita, bukan kepada si Fulan atau si Doi. Karena tulisan ini dibuat bukan untuk menebar permusuhan, melainkan bahan koreksi diri pribadi kita semua.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI