"Key, apakah sudah waktunya?" seseorang dari belakang menyentuhku dan bertanya.
"Harusnya sih iya!" begitu jawabku
Lantas kami pun mulai menghitung mundur 5, 4, 3, 2, dan kriiinggg
Suara yang dinantikan akhirnya memanggil-manggil. Tanpa aba-aba semua anak sekolah saat itu berhamburan ke luar untuk pulang.
Aku bersama dua temanku Fanny dan Sila berjalan menuju taman untuk bertemu yang lainnya. Hari kami berencana untuk menyaksikan pertandingan bola di mana salah satu teman kami berkontribusi di dalamnya.
Dari kejauhan Zahra sudah melambai-lambai dengan senyum khasnya. Sampai di sana dia langsung menyambut kami dengan gembira. "Menurutmu apakah sekolah kita akan menang?" tanya dia padaku "Hmmm, sepertinya ... sepertinya ... sepertinya kita akan tau jika pertandingan sudah selesai nanti hahaha." Lantas dia membalas "Hahaha, hihihi, hohoho ..."
Tidak seperti Zahra yang sangat ceria dan berisik di sana ada juga Diva. Kalau kata orang-orang Diva ini sangat berkebalikan dengan Zahra. Dia hanya akan berbicara jika ditanya, dan si paling oke-oke aja.
Pertemanan ini di mulai saat pertama masuk sekolah menengah atas. Saat kelas X kami berada di kelas yang sama namun menginjak kelas XI kami dipisahkan sebab berbeda peminatan. Walaupun begitu pertemanan kami masih berlanjut sampai saat ini. Tidak terasa tinggal beberapa bulan lagi sudah mendekati jadwal perpisahan.
"Baik, supaya tidak terlambat sampai ke stadion berarti kita langsung berangkat saja kan?" Tanya Diva. Aku, Sila, Fanny, dan Zahra langsung berhenti berbicara dan serempak menjawab "Yes, mam" ...
Di depan tempat pertandingan kami sudah disambut oleh Dika, seseorang yang akan memandu untuk menonton pertandingan kali ini. Dika pun orangnya sangat calm, mirip-mirip dengan Diva. Jadi kadang-kadang kami bercanda menjodoh-jodohkan mereka. Tunggu-tunggu, bukankah namanya juga mirip ya? (Diva-Dika)