Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Wiraswasta - Belajar Menulis

Belajar menulis dan suka membaca. Saat ini bekerja di Yayasan Palung

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Satwa, Nasibmu Kini

22 Juni 2016   14:36 Diperbarui: 22 Juli 2016   17:30 35
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Orangutan dalam ancaman nyata di habitat hidupnya. Foto. dok. Yayasan Palung

Hari demi hari berita duka lara terus bergema, tidak lain duka lara (duka derita) ini  terjadi pada satwa. Sejatinya hal ini juga terjadi pada kehidupan makhluk hidup. Sehingga, pertanyaannya saat ini adalah mampukah semua kehidupan untuk terus berlanjut. Terus, apa dan siapa yang salah dalam hal ini?.

Sumber kehidupan makhluk hidup saat ini terkait keprihatinan terhadap nasib satwa melalui kejadian (peristiwa) yang tidak kunjung berhenti mendera melalui tindakan, kejadian, kejahatan terus saja berlangsung menjadi penanda betapa terancamnya nasib mereka (satwa) saat ini.

Keterancaman (ancaman) dan tindakan kejahatan terhadap satwa terus bermunculan. Mulai dari kasus-kasus perdagangan, perburuan hingga penyiksaan yang menimpa satwa yang tidak berdosa. Contoh kasus masih maraknya perburuan satwa langka yang terjadi di Indonesia, lebih khusus yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera sebagai sebuah gambaran jelas akan keberlanjutan nafas hidup mereka di muka bumi ini. Kasus penyiksaan terhadap bekantan beberapa waktu lalu di Sambas, Kalbar. Perburuan terhadap Rangkong untuk diambil paruhnya, trenggiling diambil sisiknya, orangutan diburu untuk diperdagangkan dan dipelihara, cukup marak terjadi di Ketapang, Kalbar. Tidak hanya itu,  perburuan gajah untuk diambil gadingnya dan harimau untuk diambil kulitnya pun  di Sumatera masih saja berlangsung dan berulang.Tentunya juga kejadian terhadap satwa-satwa lainnya seperti burung dilindungi seperti cendrawasih, kakatua, bayan, buaya dan tarsius di Indonesia seperti di Sulawesi, Papua dan Pulau Jawa dan di beberapa tempat lainnya.

Tindakan demi tindakan oleh penegak hukum untuk menangkap para pelaku tindak kejahatan terhadap satwa seolah tidak membuat jera si pelaku. Sedihnya lagi, kasus demi kasus pun bermunculan yang mengatasnamakan kepentingan perut semata. Sosialisasi dan penyadartahuan tentang perlunya kesadaran untuk menjaga lingkungan, alam dan satwa yang selalu digemakan (disuarakan) ibarat angin lalu saja oleh sebagian besar penadah (penampung), pemburu dan pelaku kejahahatan terhdapap satwa. Ancaman lain terhadap satwa diperparah lagi dengan kasus-kasus pembalakan liar, perluasan areal berskala besar yang mengorbankan hutan membuat satwa semakin terjepit dan sempit tempat hidupnya Perlu diingat, satwa dan lingkungan serta manusia untuk sejatinya bersama-sama melindungi, menjaga dan mempertahankan, menyemai, menanam keberlanjutan nasib hidup semua makhluk hidup. 

Kelempiau atau Owa dalam ancaman nyata di habitat hidupnya karena terkungkung dipelihara tidak di habitat alinya berupa hutan. Foto dok. Yayasan Palung
Kelempiau atau Owa dalam ancaman nyata di habitat hidupnya karena terkungkung dipelihara tidak di habitat alinya berupa hutan. Foto dok. Yayasan Palung
Bekantan si monyet ekor panjang dalam ancaman pemburu di sepanjang tepian sungai pawan foto dok. Pit dan Yayasan Palung
Bekantan si monyet ekor panjang dalam ancaman pemburu di sepanjang tepian sungai pawan foto dok. Pit dan Yayasan Palung
Keprihatinan tentang nasib makhluk hidup terlebih satwa dan tumbuh-tumbuhan dilindungi yang menjadi ancaman saat ini jika boleh dikata menjadi hal yang sangat darurat. Dengan arti kata pula, perlu untuk penindakan yang tegas. Mengingat, pada tahun 2016 saja, berdasarkan data penyelamatan satwa yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat saja telah menyelamatkan 1053 Tumbuhan dan Satwa dilindungi dari tangan para kolektor, dan penjual ilegal.

Kejahatan terhadap satwa yang ditangkap oleh BKSDA Kalbar. Foto dok. Mongabay.id
Kejahatan terhadap satwa yang ditangkap oleh BKSDA Kalbar. Foto dok. Mongabay.id
Belum lagi kejadian-kejadian kasus pemiliharaan dan kejahatan terhadap satwa yang terjadi dan tidak terdata (luput dari pantauan). Tentunya dengan maraknya terjadi ancaman yang melibat satwa tidak sedikit berimbas kepada manusia. Imbasnya, selain satwa yang terancam, manusia juga dalam ancaman nyata saat ini dan itu telah terjadi. Lihat kejadian banjir, tanah longsor dan beberapa dampak lainnya seperti cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Pertanyaannya sekarang adalah masih mampukah kehidupan makhluk hidup untuk berlanjut?. Jika ya, perlu langkah strategis bersama, semua untuk mengatasi. Selain itu, perlu kepedulian, penegakan hukum yang tidak tebang pilih serta perlunya penyadaran/kesadaran dari semua pihak termasuk bagi pelaku kejahatan terhadap satwa maupun terhadap pelaku kejahatan lingkungan. Jika tidak, sudah pasti nafas hidup para satwa akan sulit berlanjut bahkan tinggal kenangan atau cerita saja di masa yang akan datang.

Semoga semua kita, siapapun itu saat ini, jika boleh, ayo!!!.. mari kita semua secara bersama-sama untuk saling menjaga, melindungi, melestarikan lingkungan dan satwa dengan cara dan tindakan nyata. Mengingat, keberlanjutan nafas hidup makhluk hidup yang mendiami bumi ini tidak terkecuali satwa, tumbuhan, hutan tergantung kepada perilaku dan tindakan kita manusia.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun