tubuh
seteguh-teguhnya iman
secerdas-cerdasnya otak
tanpa hati nurani pasti jatuh
mengapa jatuh?
nikmat selalu menarik perhatian
hikmat menjauh tatkala nikmat datang mendekat
hilanglah akal sehat dan kesadaran pada diri manusia
jatuh di mana?
mata memandang pada etalase yang menyajikan ragam menu
hati tertuju pada segala nikmat bagi tubuh
di sanalah hidup terkapar tak berdaya
lupa pada janji saling setia dalam untung dan malang, suka dan duka
keremangan malam merenggut kesetiaan yang terucap di altar suci
pesta pora siang-malam tanpa henti
lupa mungkin besok napas telah lenyap dari tubuh
di perjalanan panjang ini,
melewati persimpangan bosan, letih, lelah dan jatuh
tetapi, apakah akan terkapar di sana?
bukankah harus bangkit dan berjalan terus?
hati nurani, akal sehat, kesadaran
berjuang untuk bangkit dan berjalan
tertatih-tatih seperti bayi yang baru belajar berjalan
lebih baik, daripada tetap tinggal di lembah kelam
tak lagi memandang ke etalase dunia
nikmat di keremangan malam tampak menjijikkan
sebab, hati telah terpikat pada kesucian, kesetiaan dan kesederhanaan
hidup sebening mentari yang merekah di ufuk timur
Abepura, 3 Juni 2023; 11.50 WIT
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H