pada pertengahan hari,
tatkala manusia sibuk beraktivitas
kau terbujur kaku di kampung terpencil,
obaiyopa, damabagata, tigi timur, deiyai
Gembala muda
semuda tunas pohon merbau yang tumbuh pada tepi sungai
seketika,
aku yang berada pada tepian samudra pasifik
memutar kembali memori masa silam di bukit Yerusalem Baru
mengenang kisah emaus di tanah surga berlumur darah
hari-hari penuh perjuangan di bangku kuliah,
tetapi juga di tepi jalan menyuarakan kaum tak bersuara
pada tepian bukit, di antara kali yang mengering,
tanpa air,
pada hamparan ilalang dan pohon-pohon hijau,
burung pipit berkicau kian kemari,
di ruang-ruang sederhana,
pada tepian bukit hijau itu,
menimba air Hidup
bekal menyegarkan yang layu,
memuaskan yang dahaga,
membasuh yang bernoda
tanah surga memanggil kaumnya
menjadi pelayan,
pembasuh kaki,
belajar bukan hanya dalam ruang-ruang kuliah,
saban hari turun ke jalan-jalan
menapaki lorong sunyi menjumpai kaum tak bersuara
kembali ke kamar sempit di Yerusalem Baru,
tangan terulur meraih pena
merangkai kata yang terucap dari kaum tak bersuara
lalu jemari menyentuh tuts komputer tua itu,
jadilah rangkaian kalimat menohok penguasa,
menggugah nurani kemanusiaan universal,
mengundang solidaritas dan empati
menggenggam erat idealisme dan keyakinan teguh,
bahwa kebenaran akan menang meskipun langit tampak gelap!
semesta dan leluhur berjuang dengan caranya sendiri menghalau awan gelap
demi meraih kebenaran sejarahnya
pusaran awan gelap di langit Papua belum terurai
impian pembebasan itu belum terwujud
perjalanan ini masih terlampau panjang
dan kau sudah jalan pulang lebih cepat dari usiamu,
kembali ke rumah, tempat dari mana kita datang
pada matahari sejati,
Dia yang telah memilih dan menetapkanmu menjadi pelayan-Nya
bagi kaum tak bersuara di tanah ini,
aku dan segenap pribadi yang berada dalam barisanmu
menyerahkan istirahat panjangmu dalam kerahiman-Nya
kawan,
tubuh fisikmu pergi,
tapi semangat keberpihakanmu pada kaum tak bersuara di tanah ini,
kami lanjutkan sampai tiba di pengujung jalan perjuangan ini
dan selalu berharap pada waktunya,
kita duduk bersama lagi sekedar mengenang kembali kisah di bukit itu,
kita tak lagi duduk di ruang-ruang kuliah dan pergi ke lorong-lorong sempit,
tapi pada ketiadaan ruang dan waktu yang membatasi
kita membincangkan cinta, kasih sayang dan keberpihakan kepada yang rapuh,
letih-lesuh dan berbeban berat
seraya memuliakan Dia bersama para malaikat-Nya di surga abadi
amin
*****
[Sajak ini saya persembahkan untuk Sahabatku seperjuangan, Pastor Santon Tekege, Pr, alumni STFT Fajar Timur, angkatan 2006; imam Katolik Keuskupan Timika, yang wafat pada Kamis, 27 Mei 2021, 13.00 WIT, di Obaiyopa, Damabagata, Tigi Timur, Deiyai, Papua]
27 Mei 2021; 14.30 WIT
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI