Perempuan dan Pertambahan : Mendengar Suara yang Lain dalam Kehidupan Masyarakat Terdampak Area Tambang
Yudha Adi Putra
Universitas Kristen Duta Wacana
Pengantar : Perempuan di antara Pertambangan
Salah satu paradigma mengenai perempuan adalah bahwa perempuan itu dalam ranah privat saja. Perempuan tidak usah berurusan dengan ranah publik, apalagi kebijakan. Gambaran perempuan dipandang lemah dalam masyarakat, tidak berdaya, memerlukan pertolongan, bahkan secara singkat dapat dikatakan sebagai manusia tingkat kedua. Tingkat pertama ada laki-laki dengan ketangguhannya.Â
Dalam memfasilitasi perempuan untuk berdinamika dalam pertambangan juga terbatas. Program pertambangan penyalurannya berfokus pada mendapatkan keuntungan yang paling maksimal.Â
Setidaknya, ada penyaluran kesempatan bagi perempuan dalam konteks pertambangan. Akan tetapi, jumlahnya minim dan peran yang terbatas karena keberadaan perempuan. Fokus dalam peran perempuan terbatas dalam ranah tertentu, tidak menyeluruh. Sasarannya identik dengan keuntungan.Â
Pemulihan ekonomi melalui perempuan dalam pertambangan memang sulit. Belum lagi, bagaimana menggerakan perempuan dalam konteks ekonomi pertambangan. Untuk mengolahnya, bantuan diperlukan. Bantuan itu sering malah menjadikan ketergantungan dalam relasi antar perempuan. Adapun bentuk bantuan bukan pada pendampingan.Â
Bantuan dimunculkan dalam bentuk karitatif yang nantinya tidak berlanjut. Untuk program pertambangan di desa, tentu dinamika seperti itu dapat munculkan kesenjangan sosial antar perempuan. Kelompok perempuan dengan usia produktif memiliki tuntutan tersendiri, belum lagi modal yang tidak sedikit untuk menambang.Â
Selain itu, bentuk relasi yang berdasarkan kuasa sangat mudah dijumpai dalam konteks relasi perempuan dengan pertambangan. Pertambangan tidak hanya membawa persoalan lingkungan saja, ketika tidak diperhatikan berlanjut pada dinamika relasi sosial, terutama kesenjangan.
Pertambangan dan Persoalan Sosial