Tak ada yang mengeluh saat mau makan di warung Tegal (warteg), bahkan raut wajah terlihat gembira, selain menunya beragam, harga pun terjangkau, saat di dompet ada fulus Rp 50 ribu saja, hatinya masih tenang, karena bisa pesan dengan melihat ragam masakan yang disajikan.Â
Contoh, satu piring nasi dengan lauk pauk cumi, ada masakan pare yang dikasih bumbu kelapa, teh manis panas, tambah gorengan satu maka cukup dihargai Rp 28 ribu, coba kalau masakan tersebut di taruh di resto, sudah kena pajak makanan, saat bayar pun hati gunda gulana, saat ke kasir jangan-jangan uang seratus ribu masih kurang.Â
Warung tegal layak jadi rekomendasi bagi para pekerja, hal seperti inilah akhirnya banyak para petani Brebes ataupun para pemuda bahkan ustad atau guru ngaji pun ikut-ikutan mengais rejeki dengan membuka bisnis masakan dengan branding warteg atau warbes.Â
Bekal pinter memasak ataupun cari perempuan yang ahli memasak dan di bayar bulanan, disuruh memasak segala masakan yang ada dan disajikan untuk semua usia masuk. Wajar saja jika warung tegal menjadi warung yang direkomendasi oleh ibu rumah tangga, guru, pekerja pabrik, bahkan tukang sol sepatu pun memilih makan di warteg saja. Cuma 15 ribu sudah dapat paket komplit yakni nasi, lauk pauk dan teh manis.Â

Menjamurnya bisnis ini terkadang juga muncul kecemburuan antar pemilik warteg, kesan magic pun masih kentara. Ada yang ikhtiar dengan air dari jampi-jampi doa dan juga dikasih amalan penglaris dagang, biar usahanya laris manis dan bisa bikin isi ATM dan Dompet jadi tebal.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI