Mohon tunggu...
bahrul ulum
bahrul ulum Mohon Tunggu... Freelancer - Kompasianer Brebes Community (KBC) - Jawa Tengah

Apa yang ditulis akan abadi, apa yang akan dihafal akan terlepas, ilmu adalah buruan, pengikatnya adalah tulisan, ikatlah dengan kuat buruan mu itu. (KBC-01)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pesan Simbahku Terkait " Pisang Klutuk"

25 November 2017   04:54 Diperbarui: 30 November 2017   09:39 3915
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pisang Klutuk - Foto Ssofiyudin

Saat masih kecil, diminta sama simbah, suruh mengambil daun pisang (godong) klutuk, pisaunya ditaruh disela bambu paling pucuk, kemudian dikasih ilmu sama simbah, ambil daun klutuk yang bagus ya, jangan terlalu tua dan muda, ini contohnya, sambil menunjukkan godong dengan jari telunjuk kanannya. 

Satu per satu mulai diambil, hingga ada belasan godong jatuh ke tanah, simbah lalu kasih cara memotong godong biar tidak rusak, termasuk cara menggulung hingga rapi karena mau dijual ke pasar, biar saat dibeli ke pasar tampilannya masih ayu dan menarik.

Kata simbah, godong klutuk itu bagus untuk buat bongko poci, bisa juga untuk bungkus nasi ponggol dengan dipincuk. Pisang klutuk yang muda enak untuk dibuat urab, jika sudah matang pisang klutuk ini dinikmati manis tapi sayangnya banyak bijinya, sehingga cucu-cucunya yang mau dipersilahkan bebas untuk mencicipi pisang klutuk yang sudah matang.

Kata simbahku, wit gedang niku angel matine saderenge berbuah ( Pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah), jika dimaknai secara filosofi hidup, kehadirannya di dunia ini bisa memberi manfaat sebelum ajal menjemputnya.

Simbah juga kasih nasehat lagi, cucuku, wit gedang niku, anake mesti mencingis sebelahnya, kadang metu loro kadang sampai empat, ( Pohon pisang itu tunasnya bisa tumbuh dua atau lebih), secara filosofi hidup, Pohon pisang juga telah mempersiapkan generasi penerusnya sebelum ia ditebas dan mati, yaitu tunas yang berada disampingnya.

Tunas-tunas muda inilah yang akan meneruskan tugasnya memberi manfaat kebaikan pada siapapun yang memetik buahnya, mengambil daunnya atau memanfaatkan batangnya.  Manusia sebagai makhluk allah swt yang telah dikaruniai akal fikiran seharusnya dapat berbuat yang lebih dari pada sekedar batang pisang ini.

Simbah juga kasih nasehat, wit gedang niku jarang urip dewekan, biasane bergerombol (pohon pisang itu tidak mau hidup sendirian, mesti diseblahnya ada tunas yang silih berganti), ini artinya Pohon pisang mempunyai kekuatan diri untuk selalu hidup merumpun dan berumpun. Ia tidak pernah sebatang kara, sendiri, Kenyataan ini diartikan sebagai keteguhan hidup dalam persatuan dan konsistensi dalam kebersamaan. Sifat sengkuyung atau Bersatu di dalam kebersamaan dimaksudkan ada unsur melibatkan orang lain, kelompok.

Namun, Kebersamaan sepanjang masa, berkesinambungan dari genersi ke generasi. Sebelum ia ditebas, layu dan mati pohon pisang pasti telah berbuah dan telah memproses kehidupan generasi yang selanjutnya (tunas-tunas) yang tumbuh bermunculan di sekitarnya.

Hal ini terjadi jauh sebelum batang induk di tebas, layu dan mati. Keteguhan pohon pisang meski belum berbuah ia akan tetap bersemi walau di pancung.

Simbah juga kasih nasehat, wit pisang niku iso urip nang endi mawon, yen tanahe ladon atau subur, hasile luwih apik (pisang ini mudah Tumbuh Dimanapun Ia Berada, apalagi ditaruh di tanah yang subur).

Seperti pohon pisang yang berjuang keras untuk tumbuh demi menghasilkan buah yang dapat dinikmati untuk makhluk yang lain.

Makna dari kata jangan mati sebelum berbuah secara umum bisa diartikan jangan pernah meninggalkan suatu tempat sebelum meninggalkan kesan atau karya yang baik. Untuk hal itu kita bisa memulainya dengan selalu berbuat baik dimanapun kita berada.

Simbahku juga matur, wit gedang bukan wit pendendam (Pohon pisang itu tidak pendendam), maksudnya,  Jika ingin mengambil buahnya pohon pisang harus ditebas, minimal bagian tandannya. Meskipun pohon pisang disakiti, namun ia tidak menyuruh anaknya untuk balas dendam, misal, Berbuah beracun atau berbuah yang pahit, tidak seperti itu ia akan selalu berbuah manis walau tersakiti.

Sifat manusia yang sering mewariskan dendam kepada keturunannya, seorang bapak yang pernah disakiti seseoran, akan menceritakan kepada anaknya. Padahal sang anak tidak ada urusan dengan orang yang menyakiti tersebut.

Pohon pisamg selalu berbuah manis ( selalu mewariskan kebaikan) tidak keburukan. Semetinya begitu juga dengan manusia kepada keturunannya.

Matur suwun simbahku, wejangan atau inspirai simbah masih cucu ingat, ilmu yang dikasihkan sangat bermanfaat dan masih cucu ikuti dari filosofinya pisang ini, terima kasih yang tak terhingga. Doaku menyertai setiap waktu, buat simbahku H. Ali bin H. Abdul Ghoni dan Hj. Muslichah Alfatehah ....

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun