Politik Nasi Goreng Versus Martabak, Pak SBY Perlu Belajar dari Tukang Kayu
Tiba-tiba saja, akhir pekan lalu ramai dengan postingan nasi goreng ala SBY dengan banner sangat gede. Di mana SBY dan almarhum Ibu Any sedang menggoreng nasi. Andi Arief sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pemenangan Demokrat "menggoreng isu" keadaan sulit. Sah-sah saja sebagai upaya politis demi mungkin 22 dan pastinya 24.
Hari sebelumnya KPU dan kota Solo sedang penetapkan pasangan walikota muda mereka untuk lima tahun ke depan yang dijabat Gibran. Semua juga paham siapa di balik nasi goreng dan tukang martabak ini. keduanya sama-sama memiliki bapak presiden dua periode pilihan rakyat langsung. Sama-sama orang kuat dan tenar.
Perbedaan yang ada, pada pilihan jalur politik dan kehendak perjuangan panjang. Bagaimana itu memberikan sebuah simbolisasi yang sangat kuat mereka pada jalur politik yang sama namun dengan cara yang cukup ekstrem berbeda. Tidak salah, itu adalah jalan yang dipilih dan ditempuh oleh kedua orang tua juga kedua si pelaku, AHY dan Gibran
Kala Gibran sudah menunjukkan jati diri dan potensi personal, seorang walikota terpilih, memang masih sangat dini jika menilai apa dan siapa Gibran saat ini. Sama sekali belum bisa. Namun sudah ada upaya untuk mempertontonkan diri sebagai seorang pemimpin dengan menjadi walikota. Bisa sukses, bisa pula gagal.
Ekspektasi publik termasuk parpol tentu sangat besar. Bisa menjadi bumerang dan dilema bagi Gibran yang masih cukup muda. Untungnya adalah landasan pembangunan Solo yang sudah mapan, jelas, dan terukur membantunya untuk lebih mudah menjalankan ide dan gagasannya.
Jangan dianggap ini mudah dan ringan, justru berat karena orang pasti akan melihat dan kemudian membandingkan dengan bapaknya. Reputasi yang jauh berbeda, pengalaman, dan cara bertindak yang lain pula. Ini bisa menjadi beban sekaligus tantangan.
Melihat perubahan sikap terutama dalam berpolitik, bukan tidak mungkin ia akan sukses di dalam memimpin Solo. Terlihat jelas ketika wawancara menjelang pelantikan Jokowi 2014 lampau, ia sangat sinis pada media, pun pada politik kelihatannya. Tetapi usai pilkada DKI dan AHY safari politik ia sudah sangat luwes menjawab media, cenderung politis bahkan.
Pasti ia diperintahkan Jokowi untuk menemui, toh ia mengatakan pada media, saya  kagum pada Mas Agus, senang bisa menemui, dan mohon izin bapak diperkenankan. Diplomatis politis yang sangat menjual. Kemarin, usai pilkada dan ada tudingan ia ikut dalam bancaan tas bansos juga kelihatan cara menjawabnya. Memang masih mentah dan kelihatan aslinya yang sinis, toh  sangat membantu membuat publik susah mengulik lagi.
Potensi masalah lain, adalah limpahan kejengkelan pada Jokowi juga terimbas kepadanya. Hal yang sudah biasa ia hadapi bersama dengan Kaesang sang adik. Taktis dalam media sosial, ini berjarak, nanti perlu persiapan ketika ia harus wawancara live, hati-hati agar tidak terjebak permainan kata pengulik media.
Ia memang tidak "memiliki" partai politik, namun cukup kuat ada kekuatan politis di sana. "Pemaksaan" pencalonannya dari pusat bisa dibaca ini adalah kehendak Mega, jauh memiliki kekuatan poliitis dari pada sekadar partai kecil yang ia miliki misalnya. Toh reputasi PDI-P semua sudah paham.
AHY dan Nasi Goreng
Cukup ekstrem perbedaannya, AHY adalah ketua umum partai Demokrat yang pernah menang dalam pemilu dan memiliki presiden dua periode yang sekaligus pemilik partai mercy. Hal yang sangat mudah untuk mengantar menjadi apa saja. Hanya saja, sampai saat ini nasi goreng SBY sekaligus AHY itu masih cukup hanya internal.
Narasi yang disampaikan elit Demokrat mengatakan itu hobby Pak SBY yang biasa dinikmati intern, lingkaran utama SBY, bersama jaringan khusus mereka, LavAni. Semua gamblang memperlihatkan makna yang ada. Masih seputar intern, dan pelaku utama SBY.
Kapan AHY independen dan otonom? Susah melihat itu akan terjadi dengan melihat pola pendekatan SBY dan juga kepribadian AHY sendiri. Dilema yang seolah belum disadari keduanya. Padahal dengan melepaskan AHY dengan sepenuhnya untuk tampil sebagai dirinya sendiri jauh membantu. Nama SBY masih melekat, namun dengan sikap dan pilihan perilaku SBY selama ini, AHY justru tenggelam.
Awal-awal kalah pada pilkada DKI sudah kelihatan langkah taktisnya sendiri. Safari politik ke mana-mana sebagai AHY, tanpa embel-embel SBY, cukup menjanjikan. Lebaran politik dan berphoto dengan tokoh-tokoh sentral, Puan misalnya itu generasi yang setara, tanpa melihatkan Mega atau SBY di sana. Biar yang muda dan yang segenerasi berjumpa untuk bisa mempertontonkan eksistensi mereka.
Beberapa waktu terakhir, politik AHY sangat lekat model atau malah kalau tidak terlali kasar hanya menjadi corong SBY. Malah SBY juga ikutan lebih kenceng bersuara, sehingga AHY tenggelam. Sangat disayangkan potensi besar keduanya malah saling meniadakan, padahal jika kolaborasi justru menjadi dua kekuatan yang lebih dasyat dan besar. Â Bisa banget, kelemahan ditutupi dengan kekuatan pihak lain, kali ini malah keduanya mempertotonkan kelemahan keduanya. Membangun kekuatan bukan malah menegasi kekuatan masing-masing.
Pilihan sudah dipilih kedua pihak, dan jalan itu sudah ditempuh. Mau besar bisa langsung meraih yang gede, namun juga bisa dengan menapaki anak  tangga demi anak tangga. Proses masing-masing bisa bermuara pada hasil yang sama, namun juga bisa lain. Kesetiaan pada  proses, kemauan kerja keras, dan spiritulitas yang mantab akan memberikan pembeda.
Layak dilihat ke depannya, kedua generasi muda ini akan seperti apa. Waktu itu tidak bisa berkhianat, sama juga tidak bisa dipaksakan.
Terima kasih dan salam
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI