Spontan aku peluk, seperti memeluk anakku. "Nak, apa kbahar?" di sela isakan dan pertahanku, aku paksakan bertanya.
Cukup lama ia terisak dan menangis, benar menangis seperti anak kecil. Padahal seingatku, kala sekolah dia sama sekali tidak pernah menangis. Jatuh saja masih terbahak  kog anak ini.
"Maaf ya Ibu, tentu Ibu kaget. Apalagi saya memanggil Ibu Ade. Ibu dan hanya Ibu yang tahu Ade. Mengerti Ade, " katanya sambil membersit ingus dan air matanya tanpa malu-malu.
"Panggil Ade saja Ibu, jangan Nak, biar saya merasa memiliki Ibu..." katanya seperti belasan tahun lalu, kala anak kecil.
"Sebentar mau minum apa De?" kataku...
"Apa saja Ibu, tidak usah repot, malah saya mau mengajak Ibu makan di luar, menarktir Ibu sambil bincang, apa Ibu kersa?" tanyanya ragu dan takut.
"Boleh, iya, sebentar Ibu ganti baju dulu ya..." ada apa anak ini, sekian tahun terpisah, tiba-tiba menangis dan mengaku Ibu.
Di dalam mobil baru ia berkisah. Setamat SD aku masih tahu ke mana ia bersekolah. Ternyata di SMP itulah konflik demi konflik dengan bapak dan ibunya timbul. Perselisihan yang membuat Ade memilih pergi dan tidak pernah menginjakkan kaki di rumahnya.
Ade bercerita, Ibu dan Bapaknya adalah orang tua bagi penonton, penggemar, dan pengikut di media. Mereka sangat-sangat ideal, namun tidak bagi Ade. Ade merasa ia adalah korban dari apa yang justru diajarkan namun tidak dilakukan orang tuanya.
"Malam itu Ade marah besar Ibu, bagaimana orang tua idaman penonton dan pengikut itu berlaku sangat kejam pada anak darah dagingnya. Ade dilarang menolong teman Ade yang berkelahi karena mempertahankan harga dirinya. Teman Ade ini tidak salah, ia korban perlakukan kakak kelas yang jahat. Ade tidak terima dan ikut terlibat berkelahi," katanya tenang. Hebat anak ini.
"Salah, Ade tahu kalau salah, berkelahi tidak bener, iya, namun apa bisa abg menimbang seperti itu menurut Ibu?" ia menarik nafas dan bukan mencari jawaban.