Salah satu aspek yang membuat barat frustrasi dari invasi Russia ke Ukraina adalah bagaimana tindakan Vladimir Putin begitu mengejutkan barat. Pengulangan yang menyedihkan, yang berulang kali diungkapkan barat adalah bahwa keputusan Russia untuk berperang bukanlah tindakan "rasional" atau "logis."
Meminjam kata-kata Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace belum lama ini, Putin telah "gone full tonto" atau bertindak bodoh - seseorang yang telah kehilangan semua hubungan dengan kenyataan - tindakannya tidak dapat dijelaskan atau dipahami.
Masalahnya, pasti ada alasan mengapa Putin memutuskan untuk bertindak seperti itu. Barat mungkin tidak memahaminya, tetapi itu karena persepsi mereka tentang dunia terlalu banyak dibingkai dalam interpretasi barat tentang apa yang penting dan bagaimana negara harus berperilaku.
Dalam dunia now, interpretasi barat yang sudah terlalu lama diyakini sebagai bakal diterima dan dipatuhi secara universal adalah salah. Adalah sebuah keangkuhan ideologis untuk berasumsi bahwa prioritas Moskow pasti cocok dengan cara pandang sebagian besar Eropa dan Amerika Utara.Â
Dengan demikian, perkembangan terakhir memberi tahu kita lebih banyak tentang kegagalan banyak orang di dunia barat untuk memahami Russia daripada kegagalan logika seperti yang akhir-akhir ini disematkan kepada Putin.
Sangat mudah untuk melupakan di tengah semua kecemasan saat ini, niat Moskow telah sangat jelas selama dekade terakhir. Namun banyak orang di Eropa dengan sengaja menolak untuk percaya bahwa Russia akan menyerang sampai tank-tanknya melintasi perbatasan Ukraina pada 24 Pebruari ybl.
Celakanya lagi, banyak pemimpin barat berasumsi tekanan mereka pada ekonomi Russia, pada assets yang dimiliki oleh Putin dan pada anggota pemerintahannya akan dengan sendirinya menghalangi agresi Russia.
Inilah cara pandang dunia barat sampai sekarang. Mereka sungguh keliru meyakinkan diri mereka dengan cara pandang seperti itu. Benar para elite Russia bahkan elite China dan banyak pengamat internasional affairs bahwa barat belum lepas dari mental perang dingin dekade 1980-an sampai Uni Soviet bubar.
Sangatlah memprihatinkan bahwa pengetahuan seperti itu masih tertanam kuat dalam geopolitik global. Terlepas dari semua kemajuan teknologi komunikasi, pemahaman masing-masing negara tentang dunia tidaklah seragam.
Hal ini tidak hanya mencerminkan pentingnya geografi, tetapi juga perbedaan dalam ikatan sosial, ekonomi dan budaya, serta gesekan linguistik.Â