Poin penting dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2024 tentang Hari Pemungutan Suara Pemilihan Umum Tahun 2024 sebagai Hari Libur Nasional, dapat dimengerti bahwa semua lembaga, baik lembaga pemerintah maupun swasta, termasuk sekolah, libur.
Beberapa sekolah dipakai untuk tempat pemungutan suara (TPS). Ada yang semua ruang kelas digunakan. Tapi, ada juga yang sebagian ruang kelas digunakan. Tergantung banyak sedikitnya TPS di wilayah termaksud.
Baik ruang kelas di sekolah digunakan untuk TPS maupun tidak, anak-anak (tetap) libur sekolah berdasarkan Keppres di atas. Kalau mereka yang sudah memiliki hak untuk memilih, pada hari itu mereka ikut mencoblos di TPS mereka masing-masing.
Mereka ini umumnya yang sudah duduk di bangku SMA/SMK dan yang sederajat. Rerata  berada di Kelas XI dan XII. Mereka merupakan pemilih pemula.
Tapi, mereka yang belum memiliki hak suara, tentu saja tak memiliki hak untuk mencoblos. Pada hari pemilu, mereka bebas, yang artinya ada waktu yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat.
Apalagi pada hari itu, orangtua juga libur dan harus pergi ke TPS untuk mencoblos. Maka, sebagai pengalaman belajar untuk anak, tak ada salahnya anak diajak ke TPS melihat dari dekat kegiatan masyarakat saat pemilu.
Toh tak ada larangan bagi orangtua mengajak anak datang di TPS. Sembari mencoblos, orangtua dapat menunjukkan kepada  anak bahwa ada kegiatan yang namanya pemilu, dalam hal ini, memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), juga memilih calon legislatif (caleg).
Jadi, anak tak hanya mendengar atau melihat lewat media, yang sifatnya satu arah. Anak tak dapat bertanya ketika ada hal yang hendak ditanyakan jika hanya lewat media. Anak hanya menyerap, entah mengerti atau tak mengerti.
Sangat berbeda dengan ketika anak diajak bersama orangtua datang ke TPS. Anak dapat bertanya banyak hal yang dilihatnya. Dan, orangtua dapat menanggapinya. Pada poin ini ada aktivitas mengeksplorasi pengalaman yang dijumpainya.
Ketika anak tak bertanya apa pun, sudah seharusnya orangtua, yang menginginkan anaknya memiliki pengalaman baru, aktif untuk memersuasi anak agar dapat bincang-bincang santai perihal yang sedang dihadapi atau dijumpai.