Mohon tunggu...
Cahya Yuana
Cahya Yuana Mohon Tunggu... Tutor - Akun Pribadi

Cahya Yuana, S.Sos., M.Pd. Orang biasa yang suka dalam dunia pendidikan. Konsentasi dalam bidang pendidikan terkait dengan quality assurance, penelitian dan evaluasi pendidikan. Selain aktif didunia pendidikan waktunya juga untuk bergabung dengan beberapa organisasi sosial dan keagamaan. Jadikan hidup didunia untuk mencari bekal di akhirat dengan berkarya positif adalah prinsip hidupnya. Membaca, latihan menulis, ceramah mengisi pelatihan adalah aktivitas lainnya. Suami dari Sri Nurharjanti, yang kebetulan mempunyai aktivitas dan prinsip yang sama. Telah dianugrahi 2 putri, Mendidik anak adalah merupakan sekolah kehidupan. Nomor Kontak: 087739836417

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ayo Nikah Massal

28 Oktober 2020   15:01 Diperbarui: 28 Oktober 2020   15:07 113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: suarasiantar.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Vokasi menggalkan nikah masal antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dunia industri dan dunia kerja (IDUKA). Program nikah masal sebagai respon terhadap tingginya angka pengangguran lulusan SMK. Data BPS tahun 2018 menunjukan jumlah penganguran terbuka sebanyak 7 juta orang atau kurang lebih 53,4%.

Sumbangan terbesar dari pengangguran tersebut adalah lulusan SMK sebesar 11,24% [BPS: 2018]. Angka ini menunjukan adanya persoalan di SMK. Kompetensi lulusan SMK tidak sesuai dengan kebutuhan. Banyaknya lulusan SMK yang menganggur tentu hal yang ironis. Keberadaan SMK adalah untuk menyiapkan tenaga siap pakai. Lulusan SMK oleh karena itu seharusnya dapat mengurangi angka pengangguran, bukan memberikan sumbangan yang besar terhadap angka pengangguran (Cahya, 2020).

Umar Said menjelaskan perbedaan kultur antara sekolah dan industri menyebabkan lulusan SMK tidak siap untuk memasuki dunia kerja setelah meraka lulus (Said, 2017). Membentuk kultur industri di sekolah adalah solusi yang paling tepat. Usaha membentuk kultur industri disekolah sebetulnya bukan hal yang baru.

Mendikbud Wardiman Djojonegoro pada tahun 1993 mengenalkan program link and match Program link and match ini menegaskan relevansi pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja. Pemagangan bagi siswa sekolah (kejuruan) dianggap perlu dalam industri berkaitan dengan penerapan program link and match. Mulai tahun ajaran 1994/95, sistem ganda, atau sistem pemagangan, diterapkan di beberapa sekolah.

Pertanyaan besarnya adalah kalau sudah lama program link and match diterapkan di SMK mengapa lulusan SMK masih banyak yang menganggur. Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, mengingat varaiabel perhitungan pengangguran sangat bervariatif. Bahkan dalam satu pertemuan yang penulis ikuti beberapa narasumber menolak data dari BPS.

Kalau angka pengangguran dilihat dari lulusan SMK menjadi karyawan satu industri besar sangat mugkin, akan tetapi kalau pengangguran tidak hanya dilihat dari sisi tersebut sangat mungkin data dari dari BPS kurang tepat. Berapa banyak lulusan SMK yang selama ini memilih untuk bekerja secara mandiri. Apalagi konon ada adagium di kalangan siswa SMK "lebih baik menjadi juragan kecil dari pada menjadi karyawan di bawah juragan besar".  Belum adanya kesadaran untuk membuat perijinan usaha menjadikan para lulusan SMK yang membuka usaha secara mandiri tidak terdeteksi. Cuman pertanyaan besarnya apakah para lulusan SMK ini membuka usaha sesuai dengan apa yang mereka pelajari.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengupas tuntas arti angka pengangguran tersebut. Terlepas dari apakah seorang lulusan SMK lebih memilih  berwiraswasta atau tidak, usaha meningkatkan kualitas SMK agar lulusan sesuai dengan tuntutan dengan industri adalah program yang tepat dan perlu diapresiasi. Terus apa bedanya program nikah masal dengan Link and match sehingga program nikah masal ini nantinya betul-betul bisa menjawab persoalan terkait lulusan SMK. Dirjen Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto menyebut bentuk "pernikahan" vokasi dan industri tidak cukup dimaknai dengan mengundang dosen tamu atau memberi masukan kurikulum saja.

Ukuran telah terjadi pernikahan masal menurut Wikan apabila SMK sudah mampu menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan industri, ada dosen tamu dari industri, ada kegiatan magang luluusan SMK di Industri, adanya sertfikat kompetensi dari industri kepada siswa, guru mendapat kesempatan pelatihan dengan narasumber dari industri baik, guru mempunyai kesempatan magang di Industri, dan yang tidak kalah penting adalah komitmen industri untuk mau menyerap lulusan SMK.

Pernikahan antara SMK dengan industri sebetulnya sudah terjadi di beberapa SMK. Beberpa SMK Negeri maupun swasta sudah menjalin kerjsama denan industri. Seperti SMK Muhammadiyah Gondanglegi Malang yang menjalin kerjsama dengan beragam industri. SMK Muhammdiyah Gondang legi juga membuat beragam kelas industri sesuai dengan industru yang menjadi mitra, seperti kelas Daihatsu, Kelas SuryaTek, Kelas YAMAHA, Kelas Banking, Kelas Samsung, dan Kelas Hybrid Solar Car. Juga dikembangkan program sister school dengan Brevet Technician Superiour (BTS) Marsaille Prancis, Centre d'Apprentissage dei'Aarc Jurassien (CAAJ) Bern Swiss, Koryou High School Japan, Haihe Education Park Tianjin China, SMK Aminuddin Baki Malaysia dan Aljunaid Islamic School Singapore.  Tentu masih banyak SMK lain yang sudah mampu membuat kemitraan dengan industri. 

https://www.smkmutumalang.sch.id/
https://www.smkmutumalang.sch.id/
Dari beberapa pengalaman penulis ada beberapa kunci keberhasilan sekolah menjalin relasi dengan industri:
  • Kepemimpinan Kepala Sekolah. Perlu adanya kepala sekolah yang berjiwa visioner untuk mengembangkan SMK. Kepala sekolah tersebut perlu memahami betul dunia kejuruan, karena mengelola sekolah kejuruan berbeda dengan dengan sekolah umum. Kepala sekolah yang juga mampu membangun networking dengaan pihak luar. Pengelolaan sekolah kejuruan adalah pengelolaan yang hight cost. Alat-alat praktik cukup mahal dan selalu terbarui. Sekolah tidak cukup mengandalkan dana dari pemerintah. Tidak mengherankan dalam satu webinar seorang guru besar pakar sekolah kejuruan merasa pesimis untuk memajukan SMK kalau orientasinya dengan memperbarui prasarana sekolah. Mahalnya alat-alat praktik di sekolah kejuruan menyebabkan anggaran sekolah tidak mungkin mencover untuk pengadaan tersebut. Sinergi dengan dunia industri menjadi penting untuk mengatasi kekurangan ini. Kepala sekolah juga harus mampu mengelola tim dengan baik, mengingat dunia networking menjadikan kepala sekolah sering tidak berada disekolah, akan tetapi kepala sekolah tetap dituntut mampu menggerakan tim dengan efektif.
  • Pembinaan Sikap. Ada pengalaman penulis saat berkunjung ke satu sekolah dan satu Industri. Pengalaman pertama saat penulis menjadi konsultan ISO di satu sekolah. Kepala sekolah di Sekolah menceritakan ada beberapa siswa yang diterima magang di satu industri otomotif besar di Jakarta. Akan tetapi pelaksanaan magang tersebut tidak berlangsung lama, bukan pada persoalan kompetensi, akan tetapi pada persoalan sikap. Pihak industri mengakui kompetensi siswa dari sekolah tersebut, hanya para siswa tersebut tidak menunjukan sikap yang baik. Saat waktu bekerja sering diiringi bercanda dengan  teman. Beberapa kali sudah diberitahu akan tetapi tidak hindahkan, puncaknya manajer pabrik memutuskan untuk mengembalikan siswa ke Sekolah. Pengalaman kedua saat penulis melakukan studi banding di satu Industri. Pemilik industri menceritakan bahwa seringkali keteknikan yang diajarkan di sekolah berbeda dengan keteknikan di Industri. Seringkali perbedaan ini sederhana yang bisa dilakukan disekolah, seperti posisi berdiri saat memotong kayu. Akan tetapi guru sering kali sulit untuk merubah pola kerja seperti di Industri. Beberapa guru pernah dikirim di Industri tersebut untuk mengikuti magang, akan tetapi beberapa guru kelihatan tidak antusias, sehingga industri tersebut tidak mau menerima magang guru lagi.

Dari dua pengalaman yang penulis dapatkan, maka menurut penulis kunci keberhasilan untuk melakukan pernikahan masal antara SMK dan Industri adalah pembinaan sikap baik untuk kepala sekolah, guru maupun peserta didik. Ibaratnya agar SMK bisa dipinang oleh dan menjadi mempelai perkawinan, SMK tidak cukup bermodal wajah cakap dan cantik, tapi SMK juga harus bermodal kecantikan hati (inner Beauty).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun