Ketika Anda mendengar orang lain bercerita tentang apapun, perhatikan dorongan yang muncul dalam diri Anda ketika itu. Coba cermati dengan seksama, adakah dorongan dalam diri Anda untuk menyela?
Adakah dorongan dalam diri Anda untuk menyatakan, "Aku juga punya kisah serupa itu, bahkan lebih seru. Kisahmu belum seberapa dengan yang aku miliki atau aku ketahui".
Inilah ego. Semua manusia memilikinya. "Aku lebih penting. Kisahku lebih seru. Pengalamanku lebih banyak", dan dorongan serupa dengan itu.
Semua manusia ingin didengar, dilihat, dihargai, dimengerti, dan dianggap istimewa. Kadang harus dilakukan dengan mengorbankan orang lain. "Kisahmu tidak seberapa. Kondisi yang kamu hadapi cuma kayak begitu. Beda banget dengan yang aku hadapi".
Karena ada dorongan ego seperti itu, membuat kita ingin menyela pembicaraan orang lain. Atau merasa tidak sabar mendengar pembicaraan orang lain, dan ingin segera mendapat kesempatan berbicara. Ego mendorong kita merasa lebih baik, lebih penting, lebih hebat, lebih istimewa, namun juga lebih tragis, lebih ngeri dan lebih parah dari orang lain.
Ego mendorong Anda untuk didengarkan. Ego mendorong Anda untuk tidak suka berlama-lama mendengar orang lain berbicara. Maka Anda tidak sabar menunggu kesempatan berbicara agar didengarkan dan diakui kehebatan atau keistimewaan Anda.
Pada titik tertentu, kebiasaan seperti ini membuat hambatan dalam komunikasi pasangan suami istri. Saat istri bercerita, suami tidak betah mendengarkan. Saat suami bercerita, istri ingin lebih banyak didengarkan.
Berlatih Mengolah Ego
Mari kita mulai berlatih mengendalikan ego. Jika Anda mendengar seseorang sedang bercerita, cobalah belajar untuk menahan diri. Tahan keinginan Anda untuk menyela. Tahan keinginan Anda untuk memotong dan memutus pembicaraannya.
Terlebih dalam kehidupan berumah tangga. Saat pasangan Anda asyik bercerita, tahan keinginan Anda untuk mengganggu kenyamanannya.