[caption id="attachment_335975" align="aligncenter" width="448" caption="Sumber : en.wikipedia.org"][/caption]
Mei menjadi bulan yang sangat sakral bagi Orde Reformasi, karena di bulan ini menjadi titik balik pergantian Orde di bumi tercinta ini, Indonesia. 12 Mei sebagai pemicu awal peristiwa – peristiwa lainnya seperti turunnya Soeharto, semanggi I, semanggi II juga menjadi pemicu awal terjadinya kerusuhan yang “terorganisir” di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Peristiwa kerusuhan yang terjadi antara tanggal 13 – 15 Mei ini seakan menciderai heroisme dari empat korban pahlawan reformasi. Seperti diketahui bersama pasca berita meninggalnya Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie kemarahan rakyat pada waktu itu tidak dapat di bendung lagi. Kerusuhan pun meletus di Ibu Kota dan beberapa kota besar lainnya. Kerusuhan dengan pelanggaran HAM berat dengan pembakaran, penganiayan hingga pemerkosaan terhadap etnis Cina yang juga berbuntut pelanggaran Ras terbesar di Indonesia.
Kerusuhan ini bermula dari “dimanfaatkanya” kemarahan rakyat pasca tewasnya empat mahasiswa Trisakti. Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) ada faktor pemicu (trigerring factor)1 yang sesuai dengan urutan waktu, titik awal pemicu kerusuhan dan respon akibat tragedi sore hari tanggal 12 Mei, ada aksi serentak yang terkordinasi. Rentang waktu yang terjadi hampir bersamaan antara pukul 08.00 – 10.00 WIB.titik awal picu pun berada di sekitar lokasi kampus Trisakti di Jakarta Barat dan peristiwa terjadi seakan – akan akibat dari kemarahan masyarakat akibat dari tragedi penembakan empat mahasiswa Trisakti. Di hari inilah pembakaran toko – toko milik etnis Cina, hingga penjarahan, penganiayan dan pemerkosaan terjadi di beberapa titik.
Kerusuhan yang berkembang di hari berikutnya ini semakin menguat temuan TGPF bahwa ada narasi dari beberapa pemegang kepentingan di carut marut negeri pada saat itu. TGPF menemukan pola kelompok pelaku yaitu Pertama provokator kelompok inilah yang menggerakan massa, memancing dan memprovokasi massa. Jumlahnya hanya segelintir orang sekitar belasan orang, tetapi mereka yang mengawali pembakaran hingga memancing massa yang lain. Provokator ini terorganisir dapat dilihat dengan media yang dipakai seperti motor, alat komunikasi dan alat – alat perusakdan bukan penduduk setempat2 Kedua Massa aktif jumlahnya puluhan hingga ratusan dan pendatang yang mulanya sebagai massa pasif, akibat provokasi dari kelompok pertamalah akhirnya massa ini menjadi massa aktif3 dan dengan membabi buta melakukan pembakaran, pengerusakan, penganiayaan hingga pemerkosaan. Ketiga massa pasif, penduduk lokal yang menonton, tetapi sebagian ikut – ikutan menjarah sebagian lagi menjadi korban kerusuhan4. Hasil dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kurusuha ini benar – benar fakta menjadi kerusuhan yang terorganisasi.
Kerusuhan Mei yang berpola provokatif, sporadis dan terorganisasi dengan baik ini akhirnya menyisakan catatan – catatan memilukan bagi sejarah bangsa Indonesia. Di Jakarta sendiri korban meninggal akibat kerusuhan yang terjadi antara tanggal 13 – 15 Mei ini ada 1190 (ter/dibakar) dan 27 orang (akibat senjata) data dari tim relawan TGPF5. Belum korban penculikan yang sampai hari ini belum ditemukan, mereka adalah Yadin Muhidin (23 tahun/hilang didaerah Senen), Abdul Nasir (33/Lippo Karawaci), Hendra Hambali (19/Glodok Plaza), Ucok Siahaan (22)6. dan juga beberapa korban pelecehan seksual baik dengan kekerasan, penganiayaan dan pemerkosaan.
Melihat fakta di atas, dapat dibaca bahwa ada aktor di belakang tragedi kerusuhan mei yang terjadi di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Kerusuhan ini sebagai akibat dari ekses dari aksi massa mahasiswa yang menyikapi dinamika ekonomi – politik dalam negeri. Di politik ada persaingan dari kelompok elite dalam perebutan kekuasaan dengan memanfaatkan krisis ekonomi yang terjadi di Asia yang berimbas di ekonomi dalam negeri. Persaingan para penguasa elite politik ini yang perlu menjadikan rakyat sebagai tumbal dalam perebutan kekuasaan. Artinya ada aktor dibelakang kerusuhan yang terjadi dan di dalangi oleh kelompok elite tertentu. Siapa mereka? Tentu beberapa kelompok elite yang terlibat diproses alih kepemimpinan pada waktu itu mengetahui semua, hanya saat ini memilih bungkam. Bangsa kita benar – benar dipaksa untuk lupa.
Catatan Kaki :
- Bab 4 Laporan Temuan TGPF. http://www.semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html
- Bab 4.2.1 Lap Temuan TGPF http://www.semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html
- Bab 4.2.2 Lap Temuan TGPF http://www.semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html
- Bab 4.2.3 Lap Temuan TGPF http://www.semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html
- Bab 4.3.2 Laporan Jumlah Korban dan Kerugian TGPF http://www.semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html
- Bab 4.3 Laporan Korban Penculikan http://www.semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI