Ibu, engkaulah Ibu
yang selalu tahu inginku
mampu merasakan keringatku yang hangat
mampu menghitung langkahku
bisa mengubah air mataku
menjadi madu
walau saat ini aku jauh darimu
jauh dari jemari tuamu
kuku-kuku keringmu
senyum ikhlasmu
kini, kita tak bisa lagi bersama
meminum kopi saat mentari membiaskan sinarnya
tak ada batas antara Ibu dan anaknya
betul kan Bu?
lentera jiwamu tertabur
dalam segelas kopiku
walau getir hidup pahit
memasung leher keluarga kita
ada dirimu, ada kasih sayangmu
melepaskannya, merangkulnya, menikmatinya
engkau pun tahu
tentang jiwamu itu
mendekatkan jiwa kita
dengan mengirimkanku bubuk kopi
yang engkau jama sendiri
ketika kuseduh
terasa kumampu mengelilingi alam semesta
mungkin, doamu juga tercampur dalam bubuk kopi itu
Ibu, terima kasih
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI