"Memangnya mau ngabuburit ke mana?"
"Ite uyo kan bi diem nak umeak bae!"*
Bulan puasa tahun ini, kegiatan ngabuburit begitu terbatas oleh keadaan dan kenyataan. Keadaannya, kita masih berada dalam belenggu Covid-19 sehingga tidak leluasa untuk pergi semau mood dan hati kita.
Kenyataannya? Keselamatan hidup diri ini, keluarga, serta bangsa lebih penting dari sekadar keliling-keliling menghabiskan BBM dan isi dompet demi mengunjungi tempat yang romantis.
Memang, dengan berkeliling dan mengunjungi tempat-tempat keramaian penantian waktu berbuka puasa akan terasa lebih cepat. Tapi, ngabuburit tidaklah sekedar jalan-jalan iseng, bermain, maupun mendatangi pasar untuk memborong takjil saja.
Toh, kalaupun ngabuburit maunya harus seperti itu, tetap tidak bisa dipaksakan, bukan? Sebenarnya kita sendiri selalu rindu untuk mengulang momentum ramadan tahun lalu. Kita sering berbuka bersama, berkumpul bersama di taman, jajan takjil, hingga wisata keliling kota.
Tapi kali ini, biarlah dulu. Biarkan kenangan itu bertumpuk bersama kerinduan, karena kita harus kembali ke dunia nyata. Dunia tahun 2020, ramadan 1441 H di tengah pandemi.
Daripada menyimpan rindu yang tak jelas arahnya, lebih baik kita berimprovisasi untuk melahirkan kegiatan penantian azan Magrib yang berfaedah. Tidak sekadar buang-buang waktu, tidak juga sekadar buang-buang uang. Rugi, em!
Saya sendiri, terutama di bulan puasa 2020 mulai mencoba untuk menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan harian yang cukup bermanfaat. Setiap harinya saya harus ngabuburit dengan mengikuti webinar, menulis, hingga lebih dekat dengan kambing.
Lho, kok kambing? Cuz, kita simak satu-satu kegiatan ngabuburit ala saya, ya:
Ikut Webinar