Dengan berkembangnya media teknologi dan informasi berbasis internet, berita semakin mudah didapat. Terang saja, hanya slide up Android sekali sudah dapat materi dan berita yang  di inginkan. Atau tinggal teriak sedikit kepada "Google Voice", akan muncul informasi yang diharapkan.Â
Uniknya, berita didapat hanya dalam waktu sepersekian detik. Padahal si penulis berita bisa saja memakan waktu hingga berjam-jam dalam menulis sebuah artikel berita. Tentu saja untuk  memastikan bebas hoaxs, tidak plagiat, dan yang paling penting adalah aktual.
Sebagai media konvensional, koran lokal semakin hari semakin dirundung kedukaan melawan arus media digital. Sebagai acuan dari katada.co.id, bahwa Survei Nielsen Consumer & Media View hingga triwulan ketiga 2017 menyatakan, kebiasaan membaca orang Indonesia telah mengalami pergeseran.Â
Pada 2017, tingkat pembelian koran secara personal hanya sebesar 20%, menurun dibandingkan 2013 yang mencapai 28%.
Alasannya tampak cukup jelas, yaitu soal biaya pembelian dan minat pembaca. Mudahnya akses internet menyebabkan sebagian orang memutuskan untuk berhenti "berlangganan" koran lokal. Karena di samping biaya internet yang "relatif" lebih murah, informasinya juga bisa didapat tanpa mengeluarkan keringat.
Minat pembaca juga demikian. Para pembaca koran lokal relatif hanya mereka yang ada di sekolah, kantor, perusahaan ataupun perpustakaan. Lagi-lagi ingin gratisan, tanpa memperdulikan eksistensi media lokal.
Alasan-alasan ini pun berujung tragis pada koran lokal. salah satunya adalah harian lokal di Provinsi Bengkulu. Melalui progress.id, koran masyarakat Curup yang bernama Radar Pat Petulai resmi mengumumkan berhenti terbit mulai hari Minggu 29 April 2018 lalu. Alasan yang disampaikan manajemen agaknya cukup pelik.Â
Koran lokal yang sudah eksis 12 tahun ini mengaku sudah tidak mendapat dukungan dari pemerintah daerah seperti dahulu lagi. Padahal mereka sudah mengurangi jumlah halaman terbit, dari 12 halaman menjadi 8 halaman.
Entah karena revolusi arus media atau program digitalisasi informasi, koran lokal seakan mengelus duka. Koran lokal juga dihadapkan dengan tantangan harga kertas yang kian meroket. Karena harga kertas meningkat, biaya cetakpun meningkat. Hal ini tidaklah selaras dengan income yang didapat.
Karena koran lokal adalah kebanggaan daerah, maka pemerintah daerah dan masyarakat tentu harus menjaga eksistensi mereka. Terang saja, banyak para pengangguran yang terselamatkan karena koran lokal.Â