Merah merona dengan bayang keindahan.
Menerangi benang di bawah telapak kaki.
Maju selangkah demi selangkah.
Akankah ada tali merah yang terbentang dari kanan kekiri ?
Yang kulihat hanya lah kaktus di telapak kaki ku.
Yang kupikul hanya lah meteor yang jatuh dari langit.
Yang kurasakan hanyalah kopi tanpa gula.
Hitam mulai membesar.
Merah mulai meredup.
Ku ingin pergi kearah cahaya redup itu.
Tapi jarum yang berputar tidak mengizinkan ku untuk kesana.
Aku hanya bisa melihat cahaya itu dari kejauhan.
Bagaikan melihat bintang di malam hari.
Indah tapi tidak bisa untuk di gapai.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H